Senin, 28 April 2014

Setahun setelah kepergianmu

26 April 2013

Aku mengiringimu. tapi kau tak lagi melangkah. seperti saat kau berjalan bersisian denganku. seperti saat kita berbincang tentang apa saja. kau diam. bisu. dan aku hanya mampu meresapi keheninganmu. juga diam dalam tangis yang tertahan. Kemudian, aku melihatmu bersama alunan tauhid yang menggema menggetarkan langit. kau tetap diam dalam kesunyianmu. ketika mereka mengangkat tubuh rentamu ke liang sempit yang kini menjadi rumah abadimu itu. itukah yang bernama kematian? Ah... Tiba-tiba aku merasa ketakutan. takut tak dapat bertemu denganmu lagi. dapatkah kita bertemu setelah itu??????

26 April 2014

televisi menyiarkan berita tentang seseorang yang juga pergi dihari yang sama denganmu. tahukah engkau siapa dia? seorang ustad terkenal yang meninggal dalam kecelakaan dengan mengendarai motor gedenya. tak akan pernah disangka kan??? tak seperti dirimu yang mempersiapkannya begitu baik, meski sebenarnya tak ada yang menginginkan perpisahan ini. aku atau kamu. "aku memohon maaf kepadamu ustad. airmataku tak bisa mengalir untukmu, airmataku telah lebih dulu mengering bersama kepergiannya"
Tepat setahun kepergianmu juga ustad itu. kau benar-benar pergi ke keabadian. lagi-lagi.... dapatkah kita bertemu setelah itu???????

kau tahu...?

aku tak merasa, setahun setelah kepergianmu benar-benar satu tahun.
baru kemarin rasanya aku berbincang denganmu diberanda sederhana kita.
baru kemarin rasanya aku menyuapimu dengan bubur susu (energen) agar kau bisa makan dengan baik.
baru kemarin rasanya kau mengajakku bercanda seolah kau akan baik-baik saja.
baru kemarin rasanya aku mendekap jasad dinginmu dan kemudian mengantarmu ke pusaramu itu.

kemarin... baru kemarin rasanya... dan ternyata aku telah kehilangan jasadmu setahun penuh.

setahun setelah kepergianmu, mereka masih bergumam tentangmu. mereka melihatmu dalam diriku. benarkah itu? aku tak tahu. aku hanya mampu tersenyum. tersenyum didepan mereka. berpura-pura kuat meski aku merindukanmu. tapi mereka telah lebih dulu menangis. aku bisa apa kecuali tersenyum seolah aku selalu baik-baik saja saat mengingatmu?

seperti kau yang selalu lupa dengan tangis. aku juga melupakan tangis. meski terkadang tangis mencuri celah dan meluruh dari balik mataku. tapi bukankah itu wajar?? pembelaan diri. anggap saja itu wajar. bukankah begitu??

tapi, aku akan tetap berusaha melupakan tangis. sepertimu.
Bukankah tersenyum itu lebih indah? aku akan tetap memilih yang indah-indah. memilih menjadi tabah. karena aku tak tahu menjalani kehidupan yang lain selain itu. apakah itu namanya memilih? anggap saja begitu.

Setahun setelah kepergianmu. semoga Allah mencurahkan cintaNya kepadamu juga kepadaku. agar kita dapat bertemu setelah itu!


_ini jelas kutujukan kepada siapa_

(Bone, koridor kampus, menikmati angin)




0 komentar:

Posting Komentar