Minggu, 20 April 2014

POTRET



Indonesia. Ini negeriku. Tempat aku dilahirkan, dibesarkan, dan mungkin juga akan dimatikan. Negeriku sangat kaya, indah dan menawan. Alamnya memesona. Orangnya ramah-ramah. Perbedaan dimana-mana. Tapi itulah kekayaan negeriku yang rupawan. Sekali engkau datang ke negeriku, rasa tak ingin engkau tinggalkan akan menjalar keseluruh syaraf-syarafmu.

Indonesia. Ini negeriku. Negeri yang damai. Negeri yang akan selalu engkau rindukan ketika engkau bertolak darinya. Negeri yang akan memberikanmu oase ketika engkau mengelana dipadang pasir. Negeri yang akan memberikanmu senyuman hangat ketika engkau datang. Negeri tanpa pertikaian.

Indonesia. Ini negeriku. Negeri yang sangat subur. Tombak dan kayu yang engkau tancapkan akan menjadi tanaman pemikat hati. Disini, engkau tak akan pernah merasakan penderitaan karena kelaparan.

Indonesia. Begitulah negeriku. Sebelum aku terbangun dari mimpi sesaatku.
Sebab nyatanya.......

Indonesia. Adalah ruang penderitaan. Adalah Penjara yang penuh penyiksaan.

Mereka mengatakan negeriku adalah tanah syurga. Memang. Indonesia adalah Syurga. Syurga bagi kebiadaban. Syurga bagi kesemena-menaan. Syurga bagi arogansi kekuasaan. Lihat saja indonesia dari masa ke masa. Rezim Orde Baru, Hitler kedua. Orde Reformasi tak mengubah apa-apa. Dan kini Demokrasi semakin memperparahnya.

Mereka mengatakan negeriku tanah permata. Memang. Indonesia adalah permata. Permata bagi penjajah. Lihat saja, CEFRON, FREEPORT, INCO dan lain-lain. Siapakah yang mengendalikannya? Penjajah Baru. Orang-orang asing. Lalu kita? Hanya budak belian. Bekerja dengan seluruh tenaga dan dibayar hanya dengan beberapa rupiah. Mereka merampas permata-permata kita dengan cara yang sangat halus dan lembut tanpa kita sadari. Setelah tersadar, semuanya telah habis menyisakan tanah gersang dan dahaga berkepanjangan.

Mereka mengatakan negeriku negeri yang kaya. Memang. Indonesia adalah negeri kaya. Kaya dengan utang yang bagai gunung yang bertumpuk-tumpuk, entah kapan akan habis. Jika engkau ingin menghitung, cobalah mulai dari seluruh penduduk indonesia, masing-masing memiliki utang Rp.6 juta/orang. Bahkan bayi-bayi yang baru lahir pun memiliki utang. Itulah utang indonesia ke IMF. 

Mereka mengatakan negeriku adalah negeri yang makmur. Memang. Indonesia adalah negeri makmur. Bagi para pemegang kekuasaan. Lalu mereka yang lemah hanya mampu mengeluarkan air mata. Lihat saja, atas nama keamanan dan ketertiban, penggusuran mewabah dimana-mana. Rumah-rumah disapu dengan buldozer, pedagang kaki lima di obrak-abrik dengan pentungan dan senapan. Tak jarang, satu atau beberapa nyawa pun melayang. Setelah itu? Bencana kelaparan, tuna wisma merajalela. Kemudian dibalik layar, penguasa terbahak, dengan mulut berjejal kemewahan.

17 Agustus, mereka mengatakan negeriku merdeka. Memang. Indonesia telah merdeka.Tapi kemerdekaan itu milik siapa? Hanya penguasa, hanya antek-antek pemerintah. Lainnya? Merdeka dalam belenggu. Merdeka hanya dalam lisan. Namun sejatinya. Rantai-rantai besi tak pernah lepas dari leher mereka. Mencekik. Melemahkan secara sistematis. Munir, Pejuang HAM. Dibungkam selamanya. Ketika ia meneriakkan LAWAN! Saat itu juga, ia menjadi batu sandungan bagi para pengkhianat kemerdekaan, para pencincang kemanusiaan, para penahta kebengisan, dan para pemandu kedzoliman.

Mereka mengatakan negeriku adalah negeri hukum. Memang. Indonesia berasaskan hukum. Tapi keadilan hukum tak pernah sama sekali dirasakan. Keadilan hanya milik mereka yang bisa membeli hukum selain itu tak ada lagi yang bernama keadilan di negeriku. Lihat saja, para perampok berdasi dihukum di dalam hotel prodeo melebihi hotel bintang lima, dengan segala fasilitas mewah didalamnya. Belum lagi tak pernah ada penyelesaian berarti dalam setiap perampokan-perampokan elegant bernama korupsi itu. Century, Hambalang, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang belum terkuak kepermukaan. Tragedi yang membawa negeriku ke ujung tombak peradaban gila. Bagaikan sebutir telur yang jatuh, akan pecah dan hancur.

Indonesia. Inilah negeriku. Negeri dengan segala krisis yang tak berkesudahan. Krisis Akhlak. Krisis Aqidah. Krisis Iman. Krisis kemanusiaan. Krisis perekonomian. Krisis kesejahteraan. Krisis keamanan. Krisis perpolitikan. dan Krisis kehidupan lainnya.

Indonesia. Inilah negeriku. Negeri yang berdiri didalam terkaman sistem bobrok yang juga siap mencabik-cabiknya tanpa ragu.

Maka apakah yang dapat menyelamatkan negeriku indonesia? Hanya Syari’at Allah dalam tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah. Itu!

0 komentar:

Posting Komentar