Kamis, 04 Desember 2014

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu


Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
Siapakah kini yang peduli pada tubuh berlumur debu?
Dimanakah kini kan bersandar jiwa-jiwa yang terpasung rapuh?
Kemanakah tangan kan merengkuh kala hati menanggung rindu?

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
Mengadu nasib disepanjang trotoar-trotoar bisu
Mengurai airmata tanpa terdengar sepotong keluh
"aku hanya ingin hidup layaknya engkau" bisiknya sendu

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
Bagaimana engkau dapat tertawa dalam canda dan gurau?
Saat tubuhmu berlumur peluh dan debu
Untuk sebuah hidup yang bahkan terlalu kejam menusukmu

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
Darimanakah kau dapatkan ketegaran yang bahkan diusia beliamu?
Darimanakah kau dapatkan kesabaran dalam meniti perjuanganmu?
Darimanakah kau belajar mengarungi ombak dengan segala tawamu?

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
(Bone, 5 desember 2014)

Kisah ini berasal dari seorang gadis cilik yang berjuang untuk menjalani hidup. seorang siswa kelas 3 SD tempatku mengajar dalam tugas PPL. seorang anak yang ayahnya telah dipanggil Allah swt. dan ibunya yang pergi setelah menikah lagi meninggalkan dirinya dan juga saudaranya terombang-ombang menghadapi amuk gelombang kehidupan yang getir. sering dipandang sebelah mata oleh teman-teman sekelasnya karena profesinya sebagai pemulung. yaahh.. dia rela mengais tempat sampah untuk mendapatkan botol-botol dan gelas-gelas bekas yang akan ditukarkan nantinya dengan beberapa rupiah. yang kuyakin itu pun tak seberapa. membantu nenek yang juga sudah lanjut usia.
Sungguh, ini bukanlah tugasnya, bukan tanggung jawabnya, bukan beban yang harus dipikulnya.

Tapi kemudian ia berkata tanpa beban : "Lebih baik mulung daripada aku harus mencuri kak"

Subhanalloh...
Barokallahu Fiik dek.... Semoga Allah memberkahi dirimu karena kejujuranmu.

Kuyakin, di luar sana, masih banyak anak-anak belia yang kisahnya serupa. dan sebagian dari kita hanya memandangnya sebelah mata.