Senin, 22 September 2014

di Lembar Sujud

Menemukanmu Kasih.
Kata mereka aku harus menjajakan hati.
Kata mereka pula aku harus memamerkan diri.
jika tidak, siapa yang akan melirik? siapa yang akan menemukan hatiku?

Sungguh, aku tak memilih itu kasih.
karena ku yakin engkau yang telah dipilih Allah di kitab rahasia itu
akan semakin menjauh dariku...

Takkan ku berikan padamu bunga yang mekar sebelum saatnya
Takkan ku biarkan rindumu bertakhta sebelum cincin melingkar manis
Takkan ku serahkan kepadamu cinta sebelum akad menyatukan kita

Tidak Kasih.

Kasih,
Menemukanmu, tak perlu dengan menjajakan hati
Menemukanmu, tak perlu dengan memamerkan diri
Menemukanmu, hanya cukup memintamu kepada Pemilikmu
Menemukanmu, hanya cukup memanggilmu di Lembar Sujudku

Ku yakin kasih,
engkau pun akan menemukanku di lembar sujudmu, di rapalan do'amu.
Lalu Allah akan mempertemukan kita di mihrab cinta, dalam mahligai sakinah
mawaddah yang kita bina bersama
:)
#JOSH (Jomblo Sampe Halal)

Rindu yang benar-benar Rindu



Tentang sebuah rindu. Bagaimana akan menuliskannya? Jika rindu ternyata masih lebih tajam dari tepi-tepi ilalang. Namun juga masih lebih indah dari lingkaran-lingkaran matahari.
Lalu rindu. Bagaimana hendak menuliskannya. Jika rindu ternyata bukanlah rindu. Ya… rindu bukanlah rindu jika masih mengharapkan pertemuan. Bagaimana bisa menyebutnya rindu jika masih akan ada pertemuan yang akan menghilangkan rindu?
Maka ini tentang sebuah rindu yang benar-benar rindu.
(Shaqayeq, 20-09-2014)

Kamis, 18 September 2014

Aku dan Sakit

Tentang sakit. apa aku pernah menuliskannya? kurasa belum. kali ini aku ingin menuliskannya. Tentang sakit yang entah kapan itu akan benar-benar menghilang dan melupakan diriku.
ya, aku ingin bertanya, kapan sakit itu akan melupakanku? ataukah memang butuh waktu lama untuk sekedar berhenti menyapaku hingga melupakanku? mungkin.
Ini tentang sakit yang bahkan aku pun tak tahu dia siapa dan apa. aku tak pernah ingin memikirkannya seperti itu. cukup hanya tahu, ini sama dengan sakit.

terkadang ku dengar bisikan ini karena kebandelanku tentang makan. tapi tahukah mereka? bahkan ini lebih dari itu. bahkan tak ingin makan hanya sebuah efek kecil dari sakit itu.

lalu mereka mengatakan lagi. mungkin ini geger otak. yaah....mungkin saja. pendarahan otak ataupun gegar otak. lantas aku bisa apa? aku hanya bisa menikmatinya kan? tak mungkin untuk membagikan rasa sakitnya kepada orang lain hingga rasa sakitnya bisa menghilang.

obat. berapa banyak obat yang pernah ku tenggak? bahkan aku pernah trauma dengan obat. obat yang salah yang pernah diberikan oleh seorang dokter kepadaku. obat yang bukan menyembuhkanku tapi malah tambah memperparah kondisiku. karenanya aku enggan menginjakkan kaki lagi di ruang periksa dokter dan mengambil obat-obat yang tertulis di catatan-catatan yang berhuruf aneh dan tak bisa ku baca.

hingga akhirnya sebuah paksaan dari mereka mengantarku ke ruang periksa. lagi. aku menerima obat. lagi. aku meminumnya. lagi. aku susah berjalan. cukup. aku berhenti. aku harus hidup tanpa obat. benar kan????

aku memilih bersahabat dengan sakit daripada bersahabat dengan obat-obatan itu.

obat itu tidak akan pernah menyembuhkanku. bagaimana mungkin aku bisa sembuh jika mereka hanya mendiagnosa tanpa kepastian? hanya menduga-duga. dan aku hanya makin merasa sakit.

aku berhenti. aku bisa berjalan. jadi benar kan? aku tak butuh obat-obat aneh itu.

sendiri. selalu. sakit. selalu. sendiri. aku.

aku hanya butuh Allah Robbiku. dan petunjuk Nabiku
ya. Hanya itu.

Itu.... Hujan!


Itu...Hujan!!!
Yaaa.... itu memang hujan.
Hujan yang mengantarkan bau basah,
Hujan yang mengantarkan harum tanah
Hujan yang mengantarkan aroma jalan-jalan
dan hujan yang juga tak jarang mengantarkan rindu-rindu menuju titian langit
saat senja terkadang enggan menampakkan jingga dan laut yang enggan mendeburkan ombak...

Ini memang tentang hujan.
aku tak pernah membenci hujan.
aku tak pernah mengatakan itu kan???

Jadi, hei....
aku tetap suka membicarakannya.
menikmati titisnya yang indah dari balik jendela

aku tak pernah membenci hujan
aku hanya tak cocok dengannya.

:)

*Saat hujan ditengah kemarau panjang

Senin, 08 September 2014

Kullu Nafsin dzaa'iqotul Maut


Kullu Nafsin Dzaa'iqotul Maut,
Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian

(Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 2)

Tak akan ada yang luput darinya, cepat atau lambat ia pasti akan datang menemui setiap makhluk yang memiliki nyawa.
menyaksikan berpisahnya ruh dengan jasad dengan mata kepalaku sendiri merupakan kali kedua untukku. esok atau lusa, mungkin orang lain yang akan menyaksikan prosesku menjalani itu. menitikkan airmata atas sebuah kepergian? ya, tentu saja. adakah yang tidak bersedih atas sebuah kepergian yang tak mungkin kembali lagi bersua? #kecuali bagi hati yang sudah mati.
tapi satu titisan lagi yang membasahi relung hati. bagaimana kah nanti kepergianku?? akankah khusnul khotimah atau malah sebaliknya????
maka sungguh, amal yang ada belumlah cukup untuk membayar tiket syurga. sedang tiket neraka sudah berada di genggaman. astaghfirulloh.....
kain kafan telah siap membalut jasad. tanah telah siap menghimpit diri. 
maka sungguh wahai jiwa. segerakanlah dirimu bertaubat. karena sungguh Allah masih menerima taubatmu sebelum nafas berada dikerongkongan.
kematian yang engkau saksikan didepan matamu, adalah peringatan bagimu. bahwa engkau pun akan mengalaminya juga suatu saat nanti. entah itu kapan. 
semoga Lafadz "Laa Ilaha Illallah" adalah kalimat terakhir yang kau ucapkan ketika saatnya tiba.

Minggu, 07 September 2014

Karena memang dialah tempatmu kembali


Aku sudah pernah mengatakan kepadamu tentang sunyi suasanaku selama ini. lalu kau hendak mampir sejenak untuk mengerti tentang sunyiku. 
Lalu kukatakan kepadamu, lihatlah dia disana. bukankah dia tempatmu menuju yang sesungguhnya? 
lihatlah mereka yang selalu menunggumu diantara rindu yang tertahan. 
Egomu meredam semua rasio yang coba kuberikan. 

tapi kini sungguh, aku telah melihatmu kembali kepada yang seharusnya.
segaris senyum ku goreskan untukmu dan mereka yang menantimu sejak lama.
dengan do'a yang kurapalkan di sepanjang hari-hariku,  Semoga Allah senantiasa menjagamu dam mereka dalam keutuhan Syurga.

karena, memang dialah tempatmu kembali
bukan aku.

:)

#untukmu yang telah menemukan dermagamu kembali