Kamis, 04 Desember 2014

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu


Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
Siapakah kini yang peduli pada tubuh berlumur debu?
Dimanakah kini kan bersandar jiwa-jiwa yang terpasung rapuh?
Kemanakah tangan kan merengkuh kala hati menanggung rindu?

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
Mengadu nasib disepanjang trotoar-trotoar bisu
Mengurai airmata tanpa terdengar sepotong keluh
"aku hanya ingin hidup layaknya engkau" bisiknya sendu

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
Bagaimana engkau dapat tertawa dalam canda dan gurau?
Saat tubuhmu berlumur peluh dan debu
Untuk sebuah hidup yang bahkan terlalu kejam menusukmu

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
Darimanakah kau dapatkan ketegaran yang bahkan diusia beliamu?
Darimanakah kau dapatkan kesabaran dalam meniti perjuanganmu?
Darimanakah kau belajar mengarungi ombak dengan segala tawamu?

Seorang anak tanpa ayah tanpa ibu
(Bone, 5 desember 2014)

Kisah ini berasal dari seorang gadis cilik yang berjuang untuk menjalani hidup. seorang siswa kelas 3 SD tempatku mengajar dalam tugas PPL. seorang anak yang ayahnya telah dipanggil Allah swt. dan ibunya yang pergi setelah menikah lagi meninggalkan dirinya dan juga saudaranya terombang-ombang menghadapi amuk gelombang kehidupan yang getir. sering dipandang sebelah mata oleh teman-teman sekelasnya karena profesinya sebagai pemulung. yaahh.. dia rela mengais tempat sampah untuk mendapatkan botol-botol dan gelas-gelas bekas yang akan ditukarkan nantinya dengan beberapa rupiah. yang kuyakin itu pun tak seberapa. membantu nenek yang juga sudah lanjut usia.
Sungguh, ini bukanlah tugasnya, bukan tanggung jawabnya, bukan beban yang harus dipikulnya.

Tapi kemudian ia berkata tanpa beban : "Lebih baik mulung daripada aku harus mencuri kak"

Subhanalloh...
Barokallahu Fiik dek.... Semoga Allah memberkahi dirimu karena kejujuranmu.

Kuyakin, di luar sana, masih banyak anak-anak belia yang kisahnya serupa. dan sebagian dari kita hanya memandangnya sebelah mata.

Rabu, 29 Oktober 2014

Tentang Percaya

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tentang percaya sepenuhnya.....
Ternyata itu masih sangat sulit untuk kulakukan. Kita tak pernah tahu bagaimana cara seseorang untuk merusak kepercayaan kita. Terkadang aku melihat betapa cantiknya sebuah pengkhianatan, betapa anggunnya sebuah kebohongan. Betapa sempurnanya cara menghilangkan kepercayaan.
Lalu setelah itu,
Sebuah kepercayaan akankah mudah terajut kembali?
Mungkin disuatu saat, kau melihatku begitu percaya. Tapi disini, di sekeping hati yang aku miliki. Tak akan pernah mudah. Ketika kata yang ku dengar hanyalah sebuah pemanis belaka.
Kau tahu?
Cobalah kedepan cermin!
Berkacalah dicermin itu. Kau akan melihat betapa sempurnanya dirimu. Tapi, cobalah berkaca pada cermin yang retak. Tak akan pernah kau dapati kesempurnaanmu. Retak-retak itu akan menghadirkan dirimu yang lain.
Kau tahu?
Cermin yang kau lihat di hadapanmu kini tak lain adalah kepercayaanku.
Sekali ia retak, takkan pernah bisa kembali utuh.

ah, aku harus percaya? mungkin aku masih memiliki alasan untuk sedikit percaya.
hanya perlu mengatakan : YA, AKU PERCAYA!
tapi lebih dari itu? mungkin tidak sama sekali.

namun, mengapa sekarang aku lebih menyukai warna hijau yaaa?? (Heii...Abaikan yang ini!)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 19 Oktober 2014

GUMAM

Mencoba terus bertahan dalam tegarku yang merapuh
Tangan-tangan malam seakan ingin membawaku menjauh.
Membawaku ke lembah ketakutan. ke lembah ketidakberdayaan

Aku ingin terbebas dari penjara kesakitan,
Aku ingin melihat duniaku yang penuh harapan,
Bukannya cermin-cermin buram dan dunia tanpa bayang...

Haruskah aku mengutuk?
Mengutuk Siapa?
Tuhan?
Diriku sendiri.

Mereka mengatakan ini kasih Tuhan
Bukankah lebih indah jika kasih dalam penyatuan?
Atau Tuhan memang tidak mengasihiku?
Mengapa ia tak segera membawaku ke singgasana abadiNya?
Menjadikanku bidadari atau budak siksaan

Aku mulai lelah
Bahkan untuk sekedar bertahan

_Bone, 19 Oktober 2014_

Rabu, 08 Oktober 2014

Ragumu Kasih

Sejenak. aku mencoba yakinkan diri. Membuang segala ketakutan. Meredam keraguan.
Sejenak. aku mulai yakin.
tapi seiring itu, engkau pun mulai rapuh dan meragu.
keraguan yang bahkan tak mampu aku hentikan.
Lantas, bagaimanakah kita akan menjalaninya kasih?

Ketika kita ingin memulai langkah pasti
Langkahmu tersurut bahkan sebelum melangkah
Lantas, bagaimana kita akan menahkodai perahu kita?
Lantas, bagaimana kita akan mengarungi samudera mimpi-mimpi kita, kasih?

Sejenak. aku pun kembali berfikir
Akan kemana engkau akan membawaku setelah ini.
ataukah kita tidak akan melangkah bersama lagi.

Aku tak tahu kasih.


Jumat, 03 Oktober 2014

untitled

Ruang tamu. aku menuliskan ini ditemani dingwa yang sedang asyik tiduran disofa. pasti kalian bertanya. siapa sih Dingwa?
dingwa itu kucing dirumah. sebenarnya kucing disini ada dua. yang satu lagi namanya encing. tapi yang satu itu taulah..doyannya kelayapan entah kemana. pulang tak cukup 1 atau 2 jam. kemudian pergi lagi.
ini apa sih?? mau bahas kucing atau apa???
sudahlah lupakan semua itu.
 dan.....














silahkan kembali ke aktivitas masing-masing.
:P :D

Senin, 22 September 2014

di Lembar Sujud

Menemukanmu Kasih.
Kata mereka aku harus menjajakan hati.
Kata mereka pula aku harus memamerkan diri.
jika tidak, siapa yang akan melirik? siapa yang akan menemukan hatiku?

Sungguh, aku tak memilih itu kasih.
karena ku yakin engkau yang telah dipilih Allah di kitab rahasia itu
akan semakin menjauh dariku...

Takkan ku berikan padamu bunga yang mekar sebelum saatnya
Takkan ku biarkan rindumu bertakhta sebelum cincin melingkar manis
Takkan ku serahkan kepadamu cinta sebelum akad menyatukan kita

Tidak Kasih.

Kasih,
Menemukanmu, tak perlu dengan menjajakan hati
Menemukanmu, tak perlu dengan memamerkan diri
Menemukanmu, hanya cukup memintamu kepada Pemilikmu
Menemukanmu, hanya cukup memanggilmu di Lembar Sujudku

Ku yakin kasih,
engkau pun akan menemukanku di lembar sujudmu, di rapalan do'amu.
Lalu Allah akan mempertemukan kita di mihrab cinta, dalam mahligai sakinah
mawaddah yang kita bina bersama
:)
#JOSH (Jomblo Sampe Halal)

Rindu yang benar-benar Rindu



Tentang sebuah rindu. Bagaimana akan menuliskannya? Jika rindu ternyata masih lebih tajam dari tepi-tepi ilalang. Namun juga masih lebih indah dari lingkaran-lingkaran matahari.
Lalu rindu. Bagaimana hendak menuliskannya. Jika rindu ternyata bukanlah rindu. Ya… rindu bukanlah rindu jika masih mengharapkan pertemuan. Bagaimana bisa menyebutnya rindu jika masih akan ada pertemuan yang akan menghilangkan rindu?
Maka ini tentang sebuah rindu yang benar-benar rindu.
(Shaqayeq, 20-09-2014)

Kamis, 18 September 2014

Aku dan Sakit

Tentang sakit. apa aku pernah menuliskannya? kurasa belum. kali ini aku ingin menuliskannya. Tentang sakit yang entah kapan itu akan benar-benar menghilang dan melupakan diriku.
ya, aku ingin bertanya, kapan sakit itu akan melupakanku? ataukah memang butuh waktu lama untuk sekedar berhenti menyapaku hingga melupakanku? mungkin.
Ini tentang sakit yang bahkan aku pun tak tahu dia siapa dan apa. aku tak pernah ingin memikirkannya seperti itu. cukup hanya tahu, ini sama dengan sakit.

terkadang ku dengar bisikan ini karena kebandelanku tentang makan. tapi tahukah mereka? bahkan ini lebih dari itu. bahkan tak ingin makan hanya sebuah efek kecil dari sakit itu.

lalu mereka mengatakan lagi. mungkin ini geger otak. yaah....mungkin saja. pendarahan otak ataupun gegar otak. lantas aku bisa apa? aku hanya bisa menikmatinya kan? tak mungkin untuk membagikan rasa sakitnya kepada orang lain hingga rasa sakitnya bisa menghilang.

obat. berapa banyak obat yang pernah ku tenggak? bahkan aku pernah trauma dengan obat. obat yang salah yang pernah diberikan oleh seorang dokter kepadaku. obat yang bukan menyembuhkanku tapi malah tambah memperparah kondisiku. karenanya aku enggan menginjakkan kaki lagi di ruang periksa dokter dan mengambil obat-obat yang tertulis di catatan-catatan yang berhuruf aneh dan tak bisa ku baca.

hingga akhirnya sebuah paksaan dari mereka mengantarku ke ruang periksa. lagi. aku menerima obat. lagi. aku meminumnya. lagi. aku susah berjalan. cukup. aku berhenti. aku harus hidup tanpa obat. benar kan????

aku memilih bersahabat dengan sakit daripada bersahabat dengan obat-obatan itu.

obat itu tidak akan pernah menyembuhkanku. bagaimana mungkin aku bisa sembuh jika mereka hanya mendiagnosa tanpa kepastian? hanya menduga-duga. dan aku hanya makin merasa sakit.

aku berhenti. aku bisa berjalan. jadi benar kan? aku tak butuh obat-obat aneh itu.

sendiri. selalu. sakit. selalu. sendiri. aku.

aku hanya butuh Allah Robbiku. dan petunjuk Nabiku
ya. Hanya itu.

Itu.... Hujan!


Itu...Hujan!!!
Yaaa.... itu memang hujan.
Hujan yang mengantarkan bau basah,
Hujan yang mengantarkan harum tanah
Hujan yang mengantarkan aroma jalan-jalan
dan hujan yang juga tak jarang mengantarkan rindu-rindu menuju titian langit
saat senja terkadang enggan menampakkan jingga dan laut yang enggan mendeburkan ombak...

Ini memang tentang hujan.
aku tak pernah membenci hujan.
aku tak pernah mengatakan itu kan???

Jadi, hei....
aku tetap suka membicarakannya.
menikmati titisnya yang indah dari balik jendela

aku tak pernah membenci hujan
aku hanya tak cocok dengannya.

:)

*Saat hujan ditengah kemarau panjang

Senin, 08 September 2014

Kullu Nafsin dzaa'iqotul Maut


Kullu Nafsin Dzaa'iqotul Maut,
Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian

(Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 2)

Tak akan ada yang luput darinya, cepat atau lambat ia pasti akan datang menemui setiap makhluk yang memiliki nyawa.
menyaksikan berpisahnya ruh dengan jasad dengan mata kepalaku sendiri merupakan kali kedua untukku. esok atau lusa, mungkin orang lain yang akan menyaksikan prosesku menjalani itu. menitikkan airmata atas sebuah kepergian? ya, tentu saja. adakah yang tidak bersedih atas sebuah kepergian yang tak mungkin kembali lagi bersua? #kecuali bagi hati yang sudah mati.
tapi satu titisan lagi yang membasahi relung hati. bagaimana kah nanti kepergianku?? akankah khusnul khotimah atau malah sebaliknya????
maka sungguh, amal yang ada belumlah cukup untuk membayar tiket syurga. sedang tiket neraka sudah berada di genggaman. astaghfirulloh.....
kain kafan telah siap membalut jasad. tanah telah siap menghimpit diri. 
maka sungguh wahai jiwa. segerakanlah dirimu bertaubat. karena sungguh Allah masih menerima taubatmu sebelum nafas berada dikerongkongan.
kematian yang engkau saksikan didepan matamu, adalah peringatan bagimu. bahwa engkau pun akan mengalaminya juga suatu saat nanti. entah itu kapan. 
semoga Lafadz "Laa Ilaha Illallah" adalah kalimat terakhir yang kau ucapkan ketika saatnya tiba.

Minggu, 07 September 2014

Karena memang dialah tempatmu kembali


Aku sudah pernah mengatakan kepadamu tentang sunyi suasanaku selama ini. lalu kau hendak mampir sejenak untuk mengerti tentang sunyiku. 
Lalu kukatakan kepadamu, lihatlah dia disana. bukankah dia tempatmu menuju yang sesungguhnya? 
lihatlah mereka yang selalu menunggumu diantara rindu yang tertahan. 
Egomu meredam semua rasio yang coba kuberikan. 

tapi kini sungguh, aku telah melihatmu kembali kepada yang seharusnya.
segaris senyum ku goreskan untukmu dan mereka yang menantimu sejak lama.
dengan do'a yang kurapalkan di sepanjang hari-hariku,  Semoga Allah senantiasa menjagamu dam mereka dalam keutuhan Syurga.

karena, memang dialah tempatmu kembali
bukan aku.

:)

#untukmu yang telah menemukan dermagamu kembali

Jumat, 29 Agustus 2014

seuntai kata....
detik demi detik yang tlah berlalu....
detik demi detik yang kita lewati bersama...
mengukir pelangi di langit yang sama...
mengumpulkan cerita yang indah nan bahagia...
seuntai kata untukmu teman...
terima kasih yang kuucapkan kepada kalian...
karena kalian tlah mengukir pelangi di dalam hidupku..
karena kalian tlah membuat bulan dan bintang bersinar terang...
membuat kesunyian menjadi sebuah nada yang indah nan lembut...
ya.. hanya seuntai kata yang dapat kuberi untukmu teman...
terima kasih karena telah menjadi kenangan indah nan membahagiakan...
teman kalian takkan peernah terhapus dari dalam ingatanku....
seuntai kata ini hanya untuk kalian "TEMAN"....

skeptis

Ini aku.
Ini bukan aku
aku yang menjadi aku
aku yang tak jadi aku.
aku siapa?
siapa aku?

itu kau.
itu bukan kau.
kau yang menjadi kau
kau yang tak jadi kau
kau siapa?
siapa kau?

itu kita.
itu bukan kita.
kita yang menjadi kita
kita yang tak jadi kita
kita siapa?
siapa kita?

21.30 wita
(shaqayeq)

Sabtu, 16 Agustus 2014

Maaf, aku merindumu

mungkin imanku telah berada dititik nadir saat ini. Dititik yang paling rendah.
aku malu  bertemu denganNya dan jika harus bertemu denganmu.
namun aku harus bagaimana dengan hati yang bahkan begitu sulit untuk ku kendalikan? aku harus bagaimana dengan hati yang bahkan tak tahu sejak kapan merindumu?.
Sungguh...
aku malu....
aku malu kepada diriku sendiri.
bahkan jilatan api nerakaNya pun mungkin takkan cukup untuk menghisab hatiku. Aakhh...

Entah telah berapa banyak pesan-pesan yang kutulis dan tak pernah tersampai kepadamu. aku  hanya menulisnya dan menghapusnya lagi.
itu kebodohanku yang paling bodoh. seharusnya tak pernah kutulis pesan-pesan itu.




MyB

Bismillah...
selamat datang kembali pemirsa ilalang,
setelah sekian lama aku menghilang dari peredaran dunia blogger. akhirnya aku kembali lagi menelusuri kepingan-kepingan kata di setiap daftar blog yang ada. jangan tanya mengapa aku menghilang dan mengapa baru muncul. sebab kau hanya akan menemui satu kata yang membosankan. yup...SIBUK!!!!

Baiklah, kembali ke aku yang sedang menulis ini ( ditengah suara musik lagu bugis yang sedang didendangkan ria kaset-kaset yang entah punya siapa : aku diwarnet soalnya), cukup banyak yang ingin kukisahkan sebenarnya, bahkan sangat...sangat..sangat..banyak. tapi yaa... cukup aku menuliskan sebuah prolog saja. karena aku sangaaaattttt rinduuuuu bangeeettt... dengan MyB. jadi, biarkan aku berkangen-kangen ria dulu dengan MyB yang rasanya sudah bertahun-tahun tidak menemuninya. lebay.com.por

kisah selanjutnya akan kalian dapatkan, entah kapan. hehehe

Rabu, 25 Juni 2014

Akhwat Nekat Story: Season 1 (Mencari rumah Fayumi)


 Kalian tahu bagaimana rasanya mencari alamat yang tak kalian tahu dimana tempatnya? yah begitulah kira-kira. aku yang memang mempunyai penyakit buta jalan dan pelupa yang selalu ku sebut alzheimer meskipun itu sebenarnya cukup berlebihan menjadi cukup nekat kali ini untuk mencari alamat Fayumi. entah mengapa kedua adik-adikku itu apakah mereka memang lugu atau bagaimana, tapi mereka tetap solid mengikutiku sang ratu nyasar. hihihi. atau mungkin mereka memang sedang menyadari bahwa memenuhi undangan walimah juga merupakan sebuah kewajiban muslim atas muslim lainnya.
 Aksi nekat setelah menyusuri hutan belantara (jalannya sebenarnya jalan raya, tapi sepanjang perjalanan lebih banyak hutannya seingatku) berbuah hampir kecut. masih ada rasa manisnya sedikit. yah...setelah perjalanan panjang dengan kebanyakan bertanya yang cukup melelahkan itu hanya terbayarr oleh pertemuan dengan fayumi yang hanya semenit. bayangkan! semenit. (aku tak menghitung sebenarnya waktu tepatnya, tapi kurasa kurang dari itu. parah!). ngambil foto fayumi pun tak sempat. dia keburu dibawa pergi sama pangerannya. #penonton kecewa
 Tapi, mau gimana lagi? kita gak mungkin menahan sang Pangeran untuk membawa sang Putri kan?
jadilah hanya cukup cipika-cipiki sekejap dan kemudian melepasnya pergi. Barokallahufiiki ya Fayumi...semoga berbahagia selalu dengan Pangeran hatimu di Istana cinta kalian yang akan membawa kalian ke SyurgaNya kelak.
:)

secuil puisi untuk akhwat2 nekat :


awan putih menjadi payung perjalanan kita
ya... disini kita mengukir sebuah perjalanan baru
kisah yang mungkin takkan bisa kita ulang lagi
meski mimpi-mimpi kita ingin segera kembali
maka ini akan menjadi kenangan yang tersimpan dimemori kita
kenangan yang akan kita buka lagi ketika ingin
kenangan yang akan kita ingat lagi disuatu hari
disaat kita sedang menjalani kehidupan yang lain
kehidupan yang akan berbeda dari apa yang telah kita jalani hari ini
itulah kita ukhti...
dengan perjalanan-perjalanan kita
yang hanya berbekal tekad
dan rapalan do'a-do'a

(Ilalang, 21 juni 2014)

Selasa, 17 Juni 2014

aku hanya sedang merindumu


Aku ingin menulis tentangmu.
Ya tentangmu.
Tapi tentangmu saja aku tak tahu.
Kecuali sedikit saja.

Tapi aku tak tahu mengapa aku ingin menulis tentangmu
Aku tak tahu sejak kapan
Sejak kapan kau hadir diujung penaku
Meskipun setelah itu aku selalu menghapusnya lagi

Tapi menghapusmu dari hatiku
Entah mengapa aku tak pernah bisa melakukannya.

Lalu,
Aku menuliskan tentangmu sekarang.
Meskipun bukan benar-benar tentangmu
Sekedar tentang hatiku
Ketahuilah...
Aku hanya sedang merindumu.

_untukmu yang kurindu_




Maaf bu, aku menangis lagi



Bu... Kau tahu? setelah kepergianmu aku selalu merasa benar-benar sendiri. Benar-benar sendiri bu. Aku tak punya teman. Aku selalu terasing dikeramaian ini. Mereka selalu melihatku baik-baik saja. Aku memang nampak baik-baik saja. Kau yang selalu mengajariku seperti itu meski tanpa memberitahuku. Tapi mereka salah bu, aku tak bisa benar-benar sepertimu. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Aku rapuh. Sangat...sangat rapuh.
Bu tahukah kau, aku bahkan berfikir mengapa Allah tidak segera mengambilku juga? Meskipun terkadang aku sangat takut, sangat takut jika aku sebenarnya tidak siap dengan semua itu. Tapi aku pun selalu merasa itulah yang terbaik. Mungkin aku bisa bersamamu lagi. Apa aku sedang putus asa bu? Aku tak tahu.
Aku rindu bu. Aku rindu ibu ada disampingku. Menjagaku ketika tidur. Memelukku. Aku rindu. Denganmu aku tak pernah merasa sepi. Bu... apa aku masih kekanak-kanakkan?  
Bu... aku lelah, sangat...sangat lelah. Tak ada senyummu yang bisa membangkitkan semangatku lagi. Tak ada tubuhmu untuk kupeluk lagi (biasanya aku akan merasa lebih tenang ketika memelukmu). Getir hidup memangkah seperti ini bu? Kau mungkin pernah melaluinya lebih dari ini. Bagaimana aku bisa bertahan bu?
Maaf Bu, aku menangis lagi.
-17 juni 2014-
0:06 wita

Jumat, 13 Juni 2014

daun kering

dipelataran masjid aku menepi, menjumpai kawan-kawanku. obrolan santai yang lebih banyak mengundang gelak... membuatku berfikir, sampai kapankah kebersamaan ini akan terjalin?
ataukah hanya seperti angin yang berhembus? sekejap datang, sekejap pergi.

lagi-lagi aku terpukau dengan guguran daun-daun itu. daun-daun kering yang tersapu angin. aku tak tahu ada apa dengan hatiku yang sebenarnya.

lagi-lagi. sepi.

aku melihat wajahku diguguran daun itu. atau mungkin itu memang aku?

Rabu, 11 Juni 2014

AKU MERINDUMU SAAT INI HINGGA NANTI



kau tahu? aku hanya bisa terdiam menggamit bayangmu dibenakku
aku hanya bisa menikmati senyummu yang masih lekat dianganku
aku hanya bisa bertanya kabarmu pada angin yang menghampiriku
aku hanya bisa mengukir namamu pada sebuah batu tempat sandaranku
aku hanya bisa mendengar suaramu yang masih terngiang ditelingaku

sejak saat kau pergi tanpa mengucap satu huruf saja
sejak saat kau tiba-tiba menghilang dan tak tahu harus kucari kemana
sejak saat kau hanya menitipkan kenangan-kenangan yang tak kutahu itu adalah akhir kita

aku mengerti kepergianmu bukan tanpa alasan
bahkan ketika kau katakan kau tak ingin aku bersedih kala itu
aku mengerti mungkin itulah alasanmu menghilang
kau tak ingin membuatku terluka...
tapi, apa kau mengerti jika kehilanganmu tanpa alasan lebih membekaskan luka?
apa kau mengerti jika itu ternyata jauh lebih menyakitkan?
ah, tidak...kau pasti tidak mengerti.

tapi semoga kau mengerti,
Aku masih merindumu saat ini hingga nanti.

Coretan Lusuhku: Mengurai Benang Kusut



Mungkin jika ada orang lain yang melihat aktivitasku pagi ini akan geleng-geleng kepala. Menganggapku kurang kerjaan  bahkan sedikit gila. Ya... aku memang mencoba menjadi gila pagi ini. Tergila-gila oleh sebuah keingintahuan. “Mengurai Benang Kusut”.

Benang putih yang menjadi kusut sebenarnya sebuah kesalahanku yang tidak ku sengaja kemarin sore. Aku membiarkannya dan menjadikannya lebih kusut lagi. Lalu pagi ini aku melihatnya lagi ditempat penyimpanan benang sewaktu aku ingin menjahit jilbabku yang kurasa agak longgar dibagian dagu. Singkatnya aku mencoba mengurai benang kusut itu lagi. Mencoba merapikannya yang telah menjadi begitu ruwet. Bahkan sebenarnya jika kalian melihatnya, maka yang ada dibenak kalian hanya membuangnya. Sedangkan aku yang memang otaknya sedikit error tidak akan berfikiran sama. Satu hal dalam benakku “Mengapa tidak mencoba mengurainya?”

Kalian tahu? ini bukanlah pekerjaan mudah. Sangat tidak mudah. Hingga kakak iparku berkata : “ sudahlah, tidak akan bisa. Potong saja dengan gunting. Cepat jadinya!”. “Tidak.... Aku yakin pasti bisa!”

Kalian tahu apa yang ada didalam otakku saat itu? Ya... Mengapa manusia selalu berfikir serba instan? Tak ada sedikitpun perjuangan?  Geulse. Padahal, jika ingin berusaha dan bersabar, sesuatu yang sulit pun pasti bisa teratasi.

Aku berfikir. Jika mengguntingnya saja, memang akan dengan cepat menghilangkan benang yang kusut. Hanya tinggal membuang yang kusut. Selesai.

Ya... jika itu hanya sebuah persoalan benang. Itu sangat mudah. Tapi bagaimana dengan manusia dengan segala dinamika kehidupannya? Apakah jalan yang instan akan menyelesaikan polemik hidup begitu saja? Sebagai contoh ada seorang yang ditinggal kekasih mengambil jalaninstan : bunuh diri. katanya tak bisa hidup tanpanya. Padahal itu hanya sebuah kebodohan yang paling bodoh. Andai dia mau berfikir jernih lagi. Dia bisa saja mendapatkan seseorang yang jauh lebih bisa membahagiakannya. Masih Ada lagi sebuah jalan instan yang sering di ambil oleh sebagian bahkan kebanyakan orang : mencuri. Katanya karena tak punya uang (kalo pejabat-pejabat yang korupsi itu alasannya kira-kira apa yah?). Padahal itu hanya kebodohan yang paling bodoh. Bagaimana tidak jika berakhir bonyok dihajar massa dan mendekam dibalik jeruji penjara? Keluar pun tetap di juluki mantan napi. Harus diwaspadai. Ini. Itu. Tak ada kepercayaan. Andai saja pada awalnya ia mau berusaha lebih giat, dan bersabar lebih banyak daripada kesabaran yang pernah dimilikinya. Bukankah Allah takkan pernah menyia-nyiakan hambaNya?

Ya... Andai saja manusia mau berusaha lebih giat daripada giat yang pernah dimilikinya. Bersabar lebih banyak daripada kesabaran yang pernah dimilikinya. Aku yakin tak ada yang tak punya jalan keluar yang jauh lebih baik daripada memilih jalan instan yang bodoh.

Seperti pagi ini saat aku mengurai benang kusut itu. Hanya butuh usaha dan kesabaran yang lebih dari yang pernah kumiliki sebelumnya. Hingga pada akhirnya benang itu tidak kusut lagi. Meski terputus. Tapi bukankah masih bisa terpakai lagi. Bahkan sekalipun bagian yang terputus itu. Tak ada yang terbuang sia-sia. Arachi?

Rabu, 11 Juni 2014
08:15 wita.

Senin, 09 Juni 2014

Coretan Lusuhku : Cinta dan Keheningan



Sebenarnya aku masih belum  terlalu mengerti cinta itu apa. Itu bahasa apa dan artinya apa. Karena itu aku tak tahu harus bertindak apa kepada cinta. Mereka mengatakan, cinta itu sebuah rasa. Rasa yang tumbuh indah didalam jiwa. Layaknya sakura-sakura yang mekar dimusim semi. Itu sih katanya. Entahlah... mungkin aku harus lebih banyak bertanya kepada pakar cinta. Meski itu kepada siapa aku juga tak tahu.

Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala kelebihannya, itu hanya sebuah simpati bagiku. Bukan cinta. Sebab,  Jika engkau kemudian melihat sebuah kekurangannya, simpati bisa menjadi antipati.

Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala kebaikannya kepadamu, itu hanya sebuah hutang budi bagiku. Bukan cinta. Sebab, Jika engkau melihat sebuah keburukannya, maka tak ada lagi hutang budi, yang ada hanya ingin menghindarinya.

Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala kelemahannya, itu hanya sebuah belas kasihan bagiku. Bukan cinta. Sebab, Jika engkau melihat sebuah kelebihannya, pada akhirnya engkau hanya akan berfikir ia tak lagi membutuhkanmu.

Jadi sungguh aku tak mengenal cinta yang sanggup untuk dikatakan. Cinta bagiku adalah hening.  Sebuah rasa yang menelusup diam-diam, dan juga dirasakan dengan diam. Lalu dibuang dengan diam ketika belum saatnya rasa itu menelusup. Seperti saat aku menghirup aroma senja diam-diam, dan menghembuskannya diam-diam.

Katanya sih, cinta itu beda tipis dengan yang namanya benci. Itu menurut teori aneh yang pernah kudengar, lalu pada akhirnya aku berfikir. Apakah aku tak bisa mencinta jika tidak pernah membenci? Ah, aneh....mengapa cinta harus didasari oleh benci? Ajaib!

Yang Aku tahu, cinta itu adalah kehidupan. Rasa itu adalah cahaya. Namun jika cahaya bersinar dalam ruang yang terang benderang, yang ada hanya akan melukai kehidupan. Sebab cahaya hanya dibutuhkan ketika gelap menyapa. (Gelap = sebuah keadaan yang siap menerima cahaya). Bukan ketika terang menyelimuti sekeliling.

Tapi yang paling pasti, cinta itu adalah perangkap rasa. Sekali kau salah berlaku, maka selamanya kau akan terpenjara dibalik jeruji cinta. Bukan tentang bahagia. Melainkan derita. Sungguh begitulah cinta. Layaknya setangkai mawar berduri. Ia terlihat begitu indah. Sangat-sangat indah. Namun dibalik indah itu ada duri yang siap menikam jua, jika engkau tak berhati-hati memegangnya.

Sungguh cinta. Ia adalah sebuah rasa yang anggun sebenarnya. Karena itu rasailah ia dengan keanggunan pula. Dalam sebuah keheningan. Bukan sesumbar, bukan meluahkannya berlebihan. Sebab, jika itu terjadi, cinta bisa pula berubah menjadi sebuah rasa yang bengis dan sadis. Meluluh lantahkan, mengoyak keindahan, lalu menghancurkan. Ia tidak lagi menjadi cinta. Tapi ambisi.

Dan sungguh cinta (lagi). Ia adalah titipan dariNya yang diberikan kepadamu untuk seseorang. Sekedar titipan. Bukan milikmu. Maka akankah kau memberikan sepenuhnya kepada seseorang itu yang bahkan belum tentu menjadi takdirmu? Sungguh tidak. Selayaknya cinta lebih indah jika kau arahkan kepadaNya. Sang Maha Cinta. Yang cintanya tidak akan pernah habis kepadamu hingga menghadiahkanmu cinta yang teramat indah untuknya yang telah menjadi takdirmu.

Sebenarnya, aku masih belum terlalu mengerti cinta itu apa. Tapi itulah yang kutahu tentang cinta.
:)
Senin, 10 Jun. 14.  00 : 04 wita.