Senin, 28 April 2014

Sebelum Matahari Rebah di Pangkuan-Mu

Berangkat menuju renungan
telah banyak hal yang terlewatkan
lalu kembali menyusunnya satu satu
sebagai penyempurnaan puzzle yang terkoyak

ku sadar akan jalan ini yang terjal
Terjal yang memaksa berhenti berjalan
namun penghentian itu akan menambah jarak
jarak yang sesungguhnya sebentar lagi dalam dekapan
meski lautan lepas seakan tak memberi arah untuk bersandar

ku tahu tak banyak mudah yang terdapati kala melangkah
lebih banyak mengucurkan peluh malah
tapi adakah ketika telah berhenti
peluh bahkan darah ikut berhenti kala melangkah lagi?

berkata tentang jeda
itu hanya jeda
jeda bukan lama

aku berangkat
menuju renungan
mendekap jarak
sebelum matahari rebah di pangkuan-Mu




Setahun setelah kepergianmu

26 April 2013

Aku mengiringimu. tapi kau tak lagi melangkah. seperti saat kau berjalan bersisian denganku. seperti saat kita berbincang tentang apa saja. kau diam. bisu. dan aku hanya mampu meresapi keheninganmu. juga diam dalam tangis yang tertahan. Kemudian, aku melihatmu bersama alunan tauhid yang menggema menggetarkan langit. kau tetap diam dalam kesunyianmu. ketika mereka mengangkat tubuh rentamu ke liang sempit yang kini menjadi rumah abadimu itu. itukah yang bernama kematian? Ah... Tiba-tiba aku merasa ketakutan. takut tak dapat bertemu denganmu lagi. dapatkah kita bertemu setelah itu??????

26 April 2014

televisi menyiarkan berita tentang seseorang yang juga pergi dihari yang sama denganmu. tahukah engkau siapa dia? seorang ustad terkenal yang meninggal dalam kecelakaan dengan mengendarai motor gedenya. tak akan pernah disangka kan??? tak seperti dirimu yang mempersiapkannya begitu baik, meski sebenarnya tak ada yang menginginkan perpisahan ini. aku atau kamu. "aku memohon maaf kepadamu ustad. airmataku tak bisa mengalir untukmu, airmataku telah lebih dulu mengering bersama kepergiannya"
Tepat setahun kepergianmu juga ustad itu. kau benar-benar pergi ke keabadian. lagi-lagi.... dapatkah kita bertemu setelah itu???????

kau tahu...?

aku tak merasa, setahun setelah kepergianmu benar-benar satu tahun.
baru kemarin rasanya aku berbincang denganmu diberanda sederhana kita.
baru kemarin rasanya aku menyuapimu dengan bubur susu (energen) agar kau bisa makan dengan baik.
baru kemarin rasanya kau mengajakku bercanda seolah kau akan baik-baik saja.
baru kemarin rasanya aku mendekap jasad dinginmu dan kemudian mengantarmu ke pusaramu itu.

kemarin... baru kemarin rasanya... dan ternyata aku telah kehilangan jasadmu setahun penuh.

setahun setelah kepergianmu, mereka masih bergumam tentangmu. mereka melihatmu dalam diriku. benarkah itu? aku tak tahu. aku hanya mampu tersenyum. tersenyum didepan mereka. berpura-pura kuat meski aku merindukanmu. tapi mereka telah lebih dulu menangis. aku bisa apa kecuali tersenyum seolah aku selalu baik-baik saja saat mengingatmu?

seperti kau yang selalu lupa dengan tangis. aku juga melupakan tangis. meski terkadang tangis mencuri celah dan meluruh dari balik mataku. tapi bukankah itu wajar?? pembelaan diri. anggap saja itu wajar. bukankah begitu??

tapi, aku akan tetap berusaha melupakan tangis. sepertimu.
Bukankah tersenyum itu lebih indah? aku akan tetap memilih yang indah-indah. memilih menjadi tabah. karena aku tak tahu menjalani kehidupan yang lain selain itu. apakah itu namanya memilih? anggap saja begitu.

Setahun setelah kepergianmu. semoga Allah mencurahkan cintaNya kepadamu juga kepadaku. agar kita dapat bertemu setelah itu!


_ini jelas kutujukan kepada siapa_

(Bone, koridor kampus, menikmati angin)




Senin, 21 April 2014

Mencari Matahari



Hujan pertama luruh dimusim ini
Ketika kumulai melukis langit dan mewarnainya dengan pelangi
Sedang angin yang hinggap hanya sebentar saja
Sekejap menyapa lalu pergi entah kemana
Dan Aku.....
Aku kembali terdiam diantara bebatuan sunyi
Membiarkan gambar-gambar usang memenuhi rongga imaji
Kesunyianku tak beranjak sama sekali
Melontarkan riuh sepi alunan abadi
Ku lihat tebing kemarau yang dulu mengeringkan luka berdarah
Membakar bening embun yang menari diujung mata
Merantai gerimis yang memahat bongkah derita
Meremukkan angin yang menghembuskan perih tawa
Lalu....
Ku susuri prosa dalam novel tua yang membangkitkan kenangan
Merekam magma bahasa yang menuruni lereng-lereng keheningan
Saat terhampar dijembatan kecemasan
Menyusun jengkal-jengkal waktu seperti jigsaw tak terselesaikan
Namun......
Seketika ku ingin berlari di sepanjang bebatuan ini
Mencari matahari yang pernah hilang dalam mimpi
dan kan kulukisi lengkung malam sepanjang petang
Hingga lorong kehidupan melangkahkan kekosongan

Minggu, 20 April 2014

Sketsa Rindu

Alam mulai gelap
Kudengar angin berbisik pada daun
Kueja malam dan kubaca hitam
Setelah matahari tanpa rembulan
juga bintang..
Mungkin mereka tengah bergurau di langit yang lain.. Atau...
Mungkin aku yang terlalu larut dalam kesunyian..
Entahlah...
Enggan kupikirkan...
Yang kuingin...
Menggamit bayangmu..
Yang hampir meluruh kena hujan tadi pagi
Biar tak kehilangan garis senyummu
Senyum yang selalu memaksaku Mencarimu dalam mimpiku
Senyum yang selalu menggelisahkan rinduku..

_22032013_

Asa Dipenghujung Senja

Di penghujung senja
Kutatap langit yang memerah saga
Ya...
Langit tlah berubah warna
Sedang angin tengah bersiap mengemas rencana baru
Sebelum mengucap salam terakhir
Dan berlalu mantap
Meski tertatih karena luka yg masih membekas nyata..

Kuingat mimpi yang dimainkan bintang
Yang malam ini tak ingin kuulang
Yang hanya ingin kulipat rapih dalam batin yang perih

Sebab mimpi nyatanya lebih tajam dari tepi ilalang..
Menyayat-nyayat sebongkah hati yang tlah perih..
Yang nyatanya lebih tajam dari baris hujan
Membentur dan menyobek batu-batu pada duka sungai..


Dan kutuliskan kenangan ini pada kesempurnaan luka yang tersayat..
Seusai menyusuri jejak berdarah pada tebing curam petualangan..

Lewat cermin, aku me,baca hitungan nafas yang tlah lepas...
Menatap kebisuan wakru yang mengepung...
Hingga senja berakhir
Hingga luka tak lagi mengalir...

Dan kini...
Kurajut benang-benang asa dan harapan menjadi bingkai kenangan
Kurenda sutera penghias impian malam...
Hingga esok,
Hingga kubangun gugusan karang dari pepasir..
Sebelum mentari membakar rerumputan...
Sebelum senja kembali merajam siang....
Sebelum daun usai memainkan embun....
Sebelum tangan kasih Tuhan membawaku pada keabadian..




(Tulisan ini ku tulis 2203'12 yang kutemukan lagi setelah mengotak-atik catatan sang Mutiara)

POTRET



Indonesia. Ini negeriku. Tempat aku dilahirkan, dibesarkan, dan mungkin juga akan dimatikan. Negeriku sangat kaya, indah dan menawan. Alamnya memesona. Orangnya ramah-ramah. Perbedaan dimana-mana. Tapi itulah kekayaan negeriku yang rupawan. Sekali engkau datang ke negeriku, rasa tak ingin engkau tinggalkan akan menjalar keseluruh syaraf-syarafmu.

Indonesia. Ini negeriku. Negeri yang damai. Negeri yang akan selalu engkau rindukan ketika engkau bertolak darinya. Negeri yang akan memberikanmu oase ketika engkau mengelana dipadang pasir. Negeri yang akan memberikanmu senyuman hangat ketika engkau datang. Negeri tanpa pertikaian.

Indonesia. Ini negeriku. Negeri yang sangat subur. Tombak dan kayu yang engkau tancapkan akan menjadi tanaman pemikat hati. Disini, engkau tak akan pernah merasakan penderitaan karena kelaparan.

Indonesia. Begitulah negeriku. Sebelum aku terbangun dari mimpi sesaatku.
Sebab nyatanya.......

Indonesia. Adalah ruang penderitaan. Adalah Penjara yang penuh penyiksaan.

Mereka mengatakan negeriku adalah tanah syurga. Memang. Indonesia adalah Syurga. Syurga bagi kebiadaban. Syurga bagi kesemena-menaan. Syurga bagi arogansi kekuasaan. Lihat saja indonesia dari masa ke masa. Rezim Orde Baru, Hitler kedua. Orde Reformasi tak mengubah apa-apa. Dan kini Demokrasi semakin memperparahnya.

Mereka mengatakan negeriku tanah permata. Memang. Indonesia adalah permata. Permata bagi penjajah. Lihat saja, CEFRON, FREEPORT, INCO dan lain-lain. Siapakah yang mengendalikannya? Penjajah Baru. Orang-orang asing. Lalu kita? Hanya budak belian. Bekerja dengan seluruh tenaga dan dibayar hanya dengan beberapa rupiah. Mereka merampas permata-permata kita dengan cara yang sangat halus dan lembut tanpa kita sadari. Setelah tersadar, semuanya telah habis menyisakan tanah gersang dan dahaga berkepanjangan.

Mereka mengatakan negeriku negeri yang kaya. Memang. Indonesia adalah negeri kaya. Kaya dengan utang yang bagai gunung yang bertumpuk-tumpuk, entah kapan akan habis. Jika engkau ingin menghitung, cobalah mulai dari seluruh penduduk indonesia, masing-masing memiliki utang Rp.6 juta/orang. Bahkan bayi-bayi yang baru lahir pun memiliki utang. Itulah utang indonesia ke IMF. 

Mereka mengatakan negeriku adalah negeri yang makmur. Memang. Indonesia adalah negeri makmur. Bagi para pemegang kekuasaan. Lalu mereka yang lemah hanya mampu mengeluarkan air mata. Lihat saja, atas nama keamanan dan ketertiban, penggusuran mewabah dimana-mana. Rumah-rumah disapu dengan buldozer, pedagang kaki lima di obrak-abrik dengan pentungan dan senapan. Tak jarang, satu atau beberapa nyawa pun melayang. Setelah itu? Bencana kelaparan, tuna wisma merajalela. Kemudian dibalik layar, penguasa terbahak, dengan mulut berjejal kemewahan.

17 Agustus, mereka mengatakan negeriku merdeka. Memang. Indonesia telah merdeka.Tapi kemerdekaan itu milik siapa? Hanya penguasa, hanya antek-antek pemerintah. Lainnya? Merdeka dalam belenggu. Merdeka hanya dalam lisan. Namun sejatinya. Rantai-rantai besi tak pernah lepas dari leher mereka. Mencekik. Melemahkan secara sistematis. Munir, Pejuang HAM. Dibungkam selamanya. Ketika ia meneriakkan LAWAN! Saat itu juga, ia menjadi batu sandungan bagi para pengkhianat kemerdekaan, para pencincang kemanusiaan, para penahta kebengisan, dan para pemandu kedzoliman.

Mereka mengatakan negeriku adalah negeri hukum. Memang. Indonesia berasaskan hukum. Tapi keadilan hukum tak pernah sama sekali dirasakan. Keadilan hanya milik mereka yang bisa membeli hukum selain itu tak ada lagi yang bernama keadilan di negeriku. Lihat saja, para perampok berdasi dihukum di dalam hotel prodeo melebihi hotel bintang lima, dengan segala fasilitas mewah didalamnya. Belum lagi tak pernah ada penyelesaian berarti dalam setiap perampokan-perampokan elegant bernama korupsi itu. Century, Hambalang, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang belum terkuak kepermukaan. Tragedi yang membawa negeriku ke ujung tombak peradaban gila. Bagaikan sebutir telur yang jatuh, akan pecah dan hancur.

Indonesia. Inilah negeriku. Negeri dengan segala krisis yang tak berkesudahan. Krisis Akhlak. Krisis Aqidah. Krisis Iman. Krisis kemanusiaan. Krisis perekonomian. Krisis kesejahteraan. Krisis keamanan. Krisis perpolitikan. dan Krisis kehidupan lainnya.

Indonesia. Inilah negeriku. Negeri yang berdiri didalam terkaman sistem bobrok yang juga siap mencabik-cabiknya tanpa ragu.

Maka apakah yang dapat menyelamatkan negeriku indonesia? Hanya Syari’at Allah dalam tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah. Itu!

Rabu, 16 April 2014

Kau dalam (nya)

Sejak kapan kau menempati (nya)?
Tiba-tiba saja kau ada dalam (nya)
kau tahu? aku membuat (nya) dengan susah payah
Tidak. Tentu saja kau tidak tahu.

Aku ingin kau keluar dari (nya)
Berhenti melakukan apapun dalam (nya)
karena (nya) ku bukan untukmu
tapi untuk (nya) sang cahaya
Ketika (nya) dalam (ku)

Bukan maksudku kau tanpa cahaya
Cahayamu bahkan sangat-sangat indah
Tapi (nya) adalah nyata
sedangkan kau hanya minda

Maka keluarlah dari (nya)
Jangan kembali pada (nya)
sebelum kau menjadi nyata
senyata (nya) dalam (ku)

Terima Kasih

ketika kau bertanya "apa benar kamu muslimah?"
Terima kasih telah mengingatkanku..
Terima kasih telah mengembalikanku seperti dulu...
Kini ku kubur lagi teori welcome ku dan kembali menjadi diriku yang dulu....

Tetaplah kamu dengan ke istiqomahanmu
Tetaplah kamu dengan kalam-kalam suci itu
Tetaplah kamu seperti itu....

Terima kasih telah menjadi temanku.

_Untukmu yang telah mengingatkanku_


Senin, 14 April 2014

Satu Shaf di Belakangmu

aku disini.
di satu shaf dibelakangmu.
saat simpul mengikat kita
dalam bahtera mahligai suci nan bahagia

aku masih disini
di satu shaf dibelakangmu
saat kita merajut mimpi-mimpi
namun terasa sulit untuk kita wujudkan

aku ada disini
di satu shaf dibelakangmu
saat engkau ingin menyandarkan lelah
yang menghampiri diri dan fikiranmu

aku akan tetap disini
di satu shaf dibelakangmu
saat terjangan badai ujian
menggoyahkan kakimu untuk tetap berdiri dan istiqomah
dijalan dakwah yang telah kita tempuhi

aku selalu disini
di satu shaf dibelakangmu
saat kau merasa, mereka semua meninggalkanmu
dan tak lagi menghiraukanmu

aku disini
di satu shaf dibelakangmu


_teruntuk yang telah dipilihkan Allah untukku, yang masih dalam genggamanNya kini_

aku akan pergi

semakin aku menatap langit biru. semakin aku melihat diriku yang telah pergi. aku yang telah jauh meninggalkan semuanya hari ini. sebab, tak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan disini. tak ada sama sekali. semakin aku mencari, semakin aku tak menemukan alasan itu. Factually, i hate to say "Good Bye" for them. but if timing up. tak akan pernah terelakkan lagi. i must to say it. dan akhirnya aku akan pergi.

Senin, 07 April 2014

Dengan apa ku harus bicara!



Dengan apa kuharus bicara,
cinta ataukah benci?
 
ketika ombak yang kupuja
menghantamku kekarang sepi

Dengan apa kuharus bicara,
Cinta ataukah benci?
 
Ketika angin yang kunanti
Menghempasku kedasar jurang semak berduri

Dengan apa kuharus bicara,
Cinta ataukah benci?
 
Ketika pelangi yang setia kupandangi
Berubah hitam dan tak indah lagi...

Dengan apa kuharus bicara
Cinta ataukah benci

Ah,
Dengan apa kuharus bicara....?!

melodi dalam sunyi

Masih nampak kerlingnya,
Masihkah aku berpura tak tahu perih?
Tika sayatan itu nampak jelas di dinding hati?
akh..
Dengan apa membenah suasana? sedang jiwa terus melamunkan wajah yang terhempas entah kemana
Masih jugakah harus kumaknai senyum itu dengan bahagia?
Memaknainya, melampaui sudut-sudut waktu
Masih terus kucari mimpi yang tak akan berujung perih
Meski pisaunya begitu nyata menaburkan dendam
bagi seruni berkalung rinai

dimana melodi yang melantun dalam sunyi?
bilakah memetik pucuk-pucuk seroja ditaman itu?
andai melodi nyenyak pada musim berganti
Tiadalah kan guna helai daun mimpi
apabila sunyi berselimut duri
masih terlalu gamang menafsir tasjid

aduhai
masihkah semangat menjadi dewa
merajai relung hati apabila rintih masih terdengar
Tapi sampai kapan?
sedang lajur waktu teruslah menyembelih tawa!

Kamis, 03 April 2014

Cinta....Rindu....



Mencintai....
Adakah yang salah darinya?
Ketika hati perlahan mulai merindui...
ah, tidak..
Seharusnya tak ada rindu..
Namun berdayakah???

Mencintai...
Itu fitrah.
Ku tahu itu.
Tak ada yang salah darinya.

Tapi kerinduan...
Bagaimana meredam?
jika belum khattam?

Kau, Cinta...
seharusnya tak menyapa...
tika saatnya belum tiba

Kau, Rindu...
Jangan lagi menggebu...
akan kupasung dalam kalbu...

dan ketika engkau inginkan aku...
Nantikan Aku di Batas Waktu



Aku mencintaimu karena Allah Ayah, sama seperti Ibu!



Diberanda usang kita, engkau tertidur. Garis-garis lelah semakin menampakkan usia senjamu ayah.. Pasti bebanmu sedemikian berat hingga engkau tertidur tanpa sengaja dikursi lusuh itu. Sesaat aku tersadar, engkau belum makan siang ini. Tapi aku tak ingin mengganggu tidurmu yang pulas itu.
Ayah, maafkan aku yang belum bisa membanggakanmu. Aku hanya mampu berdo'a kepada Allah agar sentiasa menyehatkanmu hingga aku mampu membuatmu bangga padaku ayah.
Ayah, engkaulah harta berharga yang ku miliki setelah ibu. Aku tak tahu bagaimana jika nanti aku kehilanganmu juga seperti saat aku kehilangan ibu beberapa waktu lalu. Sanggupkah aku ayah?
Sungguh akan selalu ku rindu senyummu seperti saat ku rindu senyum ibu.
Waktu akan berlalu, dan akan tiba saatnya engkau merelakanku kepada seseorang yg menggantikanmu. Ayah, bagaimana rasamu jika itu tiba?
Jika mungkin aku ingin menemani hari-hari tuamu hingga akhir, seperti saat aku menemani hari-hari ibu yang hingga sekarang kurasa hari-hari itu tak pernah cukup utk bersamanya. Aku ingin bersamanya lebih lama lagi. Begitu juga denganmu.
Terlalu mulukkah inginku ayah?
Maaf jika "ya".
Tapi aku mencintaimu karena Allah Ayah, sama seperti ibu!