Rabu, 25 Juni 2014

Akhwat Nekat Story: Season 1 (Mencari rumah Fayumi)


 Kalian tahu bagaimana rasanya mencari alamat yang tak kalian tahu dimana tempatnya? yah begitulah kira-kira. aku yang memang mempunyai penyakit buta jalan dan pelupa yang selalu ku sebut alzheimer meskipun itu sebenarnya cukup berlebihan menjadi cukup nekat kali ini untuk mencari alamat Fayumi. entah mengapa kedua adik-adikku itu apakah mereka memang lugu atau bagaimana, tapi mereka tetap solid mengikutiku sang ratu nyasar. hihihi. atau mungkin mereka memang sedang menyadari bahwa memenuhi undangan walimah juga merupakan sebuah kewajiban muslim atas muslim lainnya.
 Aksi nekat setelah menyusuri hutan belantara (jalannya sebenarnya jalan raya, tapi sepanjang perjalanan lebih banyak hutannya seingatku) berbuah hampir kecut. masih ada rasa manisnya sedikit. yah...setelah perjalanan panjang dengan kebanyakan bertanya yang cukup melelahkan itu hanya terbayarr oleh pertemuan dengan fayumi yang hanya semenit. bayangkan! semenit. (aku tak menghitung sebenarnya waktu tepatnya, tapi kurasa kurang dari itu. parah!). ngambil foto fayumi pun tak sempat. dia keburu dibawa pergi sama pangerannya. #penonton kecewa
 Tapi, mau gimana lagi? kita gak mungkin menahan sang Pangeran untuk membawa sang Putri kan?
jadilah hanya cukup cipika-cipiki sekejap dan kemudian melepasnya pergi. Barokallahufiiki ya Fayumi...semoga berbahagia selalu dengan Pangeran hatimu di Istana cinta kalian yang akan membawa kalian ke SyurgaNya kelak.
:)

secuil puisi untuk akhwat2 nekat :


awan putih menjadi payung perjalanan kita
ya... disini kita mengukir sebuah perjalanan baru
kisah yang mungkin takkan bisa kita ulang lagi
meski mimpi-mimpi kita ingin segera kembali
maka ini akan menjadi kenangan yang tersimpan dimemori kita
kenangan yang akan kita buka lagi ketika ingin
kenangan yang akan kita ingat lagi disuatu hari
disaat kita sedang menjalani kehidupan yang lain
kehidupan yang akan berbeda dari apa yang telah kita jalani hari ini
itulah kita ukhti...
dengan perjalanan-perjalanan kita
yang hanya berbekal tekad
dan rapalan do'a-do'a

(Ilalang, 21 juni 2014)

Selasa, 17 Juni 2014

aku hanya sedang merindumu


Aku ingin menulis tentangmu.
Ya tentangmu.
Tapi tentangmu saja aku tak tahu.
Kecuali sedikit saja.

Tapi aku tak tahu mengapa aku ingin menulis tentangmu
Aku tak tahu sejak kapan
Sejak kapan kau hadir diujung penaku
Meskipun setelah itu aku selalu menghapusnya lagi

Tapi menghapusmu dari hatiku
Entah mengapa aku tak pernah bisa melakukannya.

Lalu,
Aku menuliskan tentangmu sekarang.
Meskipun bukan benar-benar tentangmu
Sekedar tentang hatiku
Ketahuilah...
Aku hanya sedang merindumu.

_untukmu yang kurindu_




Maaf bu, aku menangis lagi



Bu... Kau tahu? setelah kepergianmu aku selalu merasa benar-benar sendiri. Benar-benar sendiri bu. Aku tak punya teman. Aku selalu terasing dikeramaian ini. Mereka selalu melihatku baik-baik saja. Aku memang nampak baik-baik saja. Kau yang selalu mengajariku seperti itu meski tanpa memberitahuku. Tapi mereka salah bu, aku tak bisa benar-benar sepertimu. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Aku rapuh. Sangat...sangat rapuh.
Bu tahukah kau, aku bahkan berfikir mengapa Allah tidak segera mengambilku juga? Meskipun terkadang aku sangat takut, sangat takut jika aku sebenarnya tidak siap dengan semua itu. Tapi aku pun selalu merasa itulah yang terbaik. Mungkin aku bisa bersamamu lagi. Apa aku sedang putus asa bu? Aku tak tahu.
Aku rindu bu. Aku rindu ibu ada disampingku. Menjagaku ketika tidur. Memelukku. Aku rindu. Denganmu aku tak pernah merasa sepi. Bu... apa aku masih kekanak-kanakkan?  
Bu... aku lelah, sangat...sangat lelah. Tak ada senyummu yang bisa membangkitkan semangatku lagi. Tak ada tubuhmu untuk kupeluk lagi (biasanya aku akan merasa lebih tenang ketika memelukmu). Getir hidup memangkah seperti ini bu? Kau mungkin pernah melaluinya lebih dari ini. Bagaimana aku bisa bertahan bu?
Maaf Bu, aku menangis lagi.
-17 juni 2014-
0:06 wita

Jumat, 13 Juni 2014

daun kering

dipelataran masjid aku menepi, menjumpai kawan-kawanku. obrolan santai yang lebih banyak mengundang gelak... membuatku berfikir, sampai kapankah kebersamaan ini akan terjalin?
ataukah hanya seperti angin yang berhembus? sekejap datang, sekejap pergi.

lagi-lagi aku terpukau dengan guguran daun-daun itu. daun-daun kering yang tersapu angin. aku tak tahu ada apa dengan hatiku yang sebenarnya.

lagi-lagi. sepi.

aku melihat wajahku diguguran daun itu. atau mungkin itu memang aku?

Rabu, 11 Juni 2014

AKU MERINDUMU SAAT INI HINGGA NANTI



kau tahu? aku hanya bisa terdiam menggamit bayangmu dibenakku
aku hanya bisa menikmati senyummu yang masih lekat dianganku
aku hanya bisa bertanya kabarmu pada angin yang menghampiriku
aku hanya bisa mengukir namamu pada sebuah batu tempat sandaranku
aku hanya bisa mendengar suaramu yang masih terngiang ditelingaku

sejak saat kau pergi tanpa mengucap satu huruf saja
sejak saat kau tiba-tiba menghilang dan tak tahu harus kucari kemana
sejak saat kau hanya menitipkan kenangan-kenangan yang tak kutahu itu adalah akhir kita

aku mengerti kepergianmu bukan tanpa alasan
bahkan ketika kau katakan kau tak ingin aku bersedih kala itu
aku mengerti mungkin itulah alasanmu menghilang
kau tak ingin membuatku terluka...
tapi, apa kau mengerti jika kehilanganmu tanpa alasan lebih membekaskan luka?
apa kau mengerti jika itu ternyata jauh lebih menyakitkan?
ah, tidak...kau pasti tidak mengerti.

tapi semoga kau mengerti,
Aku masih merindumu saat ini hingga nanti.

Coretan Lusuhku: Mengurai Benang Kusut



Mungkin jika ada orang lain yang melihat aktivitasku pagi ini akan geleng-geleng kepala. Menganggapku kurang kerjaan  bahkan sedikit gila. Ya... aku memang mencoba menjadi gila pagi ini. Tergila-gila oleh sebuah keingintahuan. “Mengurai Benang Kusut”.

Benang putih yang menjadi kusut sebenarnya sebuah kesalahanku yang tidak ku sengaja kemarin sore. Aku membiarkannya dan menjadikannya lebih kusut lagi. Lalu pagi ini aku melihatnya lagi ditempat penyimpanan benang sewaktu aku ingin menjahit jilbabku yang kurasa agak longgar dibagian dagu. Singkatnya aku mencoba mengurai benang kusut itu lagi. Mencoba merapikannya yang telah menjadi begitu ruwet. Bahkan sebenarnya jika kalian melihatnya, maka yang ada dibenak kalian hanya membuangnya. Sedangkan aku yang memang otaknya sedikit error tidak akan berfikiran sama. Satu hal dalam benakku “Mengapa tidak mencoba mengurainya?”

Kalian tahu? ini bukanlah pekerjaan mudah. Sangat tidak mudah. Hingga kakak iparku berkata : “ sudahlah, tidak akan bisa. Potong saja dengan gunting. Cepat jadinya!”. “Tidak.... Aku yakin pasti bisa!”

Kalian tahu apa yang ada didalam otakku saat itu? Ya... Mengapa manusia selalu berfikir serba instan? Tak ada sedikitpun perjuangan?  Geulse. Padahal, jika ingin berusaha dan bersabar, sesuatu yang sulit pun pasti bisa teratasi.

Aku berfikir. Jika mengguntingnya saja, memang akan dengan cepat menghilangkan benang yang kusut. Hanya tinggal membuang yang kusut. Selesai.

Ya... jika itu hanya sebuah persoalan benang. Itu sangat mudah. Tapi bagaimana dengan manusia dengan segala dinamika kehidupannya? Apakah jalan yang instan akan menyelesaikan polemik hidup begitu saja? Sebagai contoh ada seorang yang ditinggal kekasih mengambil jalaninstan : bunuh diri. katanya tak bisa hidup tanpanya. Padahal itu hanya sebuah kebodohan yang paling bodoh. Andai dia mau berfikir jernih lagi. Dia bisa saja mendapatkan seseorang yang jauh lebih bisa membahagiakannya. Masih Ada lagi sebuah jalan instan yang sering di ambil oleh sebagian bahkan kebanyakan orang : mencuri. Katanya karena tak punya uang (kalo pejabat-pejabat yang korupsi itu alasannya kira-kira apa yah?). Padahal itu hanya kebodohan yang paling bodoh. Bagaimana tidak jika berakhir bonyok dihajar massa dan mendekam dibalik jeruji penjara? Keluar pun tetap di juluki mantan napi. Harus diwaspadai. Ini. Itu. Tak ada kepercayaan. Andai saja pada awalnya ia mau berusaha lebih giat, dan bersabar lebih banyak daripada kesabaran yang pernah dimilikinya. Bukankah Allah takkan pernah menyia-nyiakan hambaNya?

Ya... Andai saja manusia mau berusaha lebih giat daripada giat yang pernah dimilikinya. Bersabar lebih banyak daripada kesabaran yang pernah dimilikinya. Aku yakin tak ada yang tak punya jalan keluar yang jauh lebih baik daripada memilih jalan instan yang bodoh.

Seperti pagi ini saat aku mengurai benang kusut itu. Hanya butuh usaha dan kesabaran yang lebih dari yang pernah kumiliki sebelumnya. Hingga pada akhirnya benang itu tidak kusut lagi. Meski terputus. Tapi bukankah masih bisa terpakai lagi. Bahkan sekalipun bagian yang terputus itu. Tak ada yang terbuang sia-sia. Arachi?

Rabu, 11 Juni 2014
08:15 wita.

Senin, 09 Juni 2014

Coretan Lusuhku : Cinta dan Keheningan



Sebenarnya aku masih belum  terlalu mengerti cinta itu apa. Itu bahasa apa dan artinya apa. Karena itu aku tak tahu harus bertindak apa kepada cinta. Mereka mengatakan, cinta itu sebuah rasa. Rasa yang tumbuh indah didalam jiwa. Layaknya sakura-sakura yang mekar dimusim semi. Itu sih katanya. Entahlah... mungkin aku harus lebih banyak bertanya kepada pakar cinta. Meski itu kepada siapa aku juga tak tahu.

Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala kelebihannya, itu hanya sebuah simpati bagiku. Bukan cinta. Sebab,  Jika engkau kemudian melihat sebuah kekurangannya, simpati bisa menjadi antipati.

Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala kebaikannya kepadamu, itu hanya sebuah hutang budi bagiku. Bukan cinta. Sebab, Jika engkau melihat sebuah keburukannya, maka tak ada lagi hutang budi, yang ada hanya ingin menghindarinya.

Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala kelemahannya, itu hanya sebuah belas kasihan bagiku. Bukan cinta. Sebab, Jika engkau melihat sebuah kelebihannya, pada akhirnya engkau hanya akan berfikir ia tak lagi membutuhkanmu.

Jadi sungguh aku tak mengenal cinta yang sanggup untuk dikatakan. Cinta bagiku adalah hening.  Sebuah rasa yang menelusup diam-diam, dan juga dirasakan dengan diam. Lalu dibuang dengan diam ketika belum saatnya rasa itu menelusup. Seperti saat aku menghirup aroma senja diam-diam, dan menghembuskannya diam-diam.

Katanya sih, cinta itu beda tipis dengan yang namanya benci. Itu menurut teori aneh yang pernah kudengar, lalu pada akhirnya aku berfikir. Apakah aku tak bisa mencinta jika tidak pernah membenci? Ah, aneh....mengapa cinta harus didasari oleh benci? Ajaib!

Yang Aku tahu, cinta itu adalah kehidupan. Rasa itu adalah cahaya. Namun jika cahaya bersinar dalam ruang yang terang benderang, yang ada hanya akan melukai kehidupan. Sebab cahaya hanya dibutuhkan ketika gelap menyapa. (Gelap = sebuah keadaan yang siap menerima cahaya). Bukan ketika terang menyelimuti sekeliling.

Tapi yang paling pasti, cinta itu adalah perangkap rasa. Sekali kau salah berlaku, maka selamanya kau akan terpenjara dibalik jeruji cinta. Bukan tentang bahagia. Melainkan derita. Sungguh begitulah cinta. Layaknya setangkai mawar berduri. Ia terlihat begitu indah. Sangat-sangat indah. Namun dibalik indah itu ada duri yang siap menikam jua, jika engkau tak berhati-hati memegangnya.

Sungguh cinta. Ia adalah sebuah rasa yang anggun sebenarnya. Karena itu rasailah ia dengan keanggunan pula. Dalam sebuah keheningan. Bukan sesumbar, bukan meluahkannya berlebihan. Sebab, jika itu terjadi, cinta bisa pula berubah menjadi sebuah rasa yang bengis dan sadis. Meluluh lantahkan, mengoyak keindahan, lalu menghancurkan. Ia tidak lagi menjadi cinta. Tapi ambisi.

Dan sungguh cinta (lagi). Ia adalah titipan dariNya yang diberikan kepadamu untuk seseorang. Sekedar titipan. Bukan milikmu. Maka akankah kau memberikan sepenuhnya kepada seseorang itu yang bahkan belum tentu menjadi takdirmu? Sungguh tidak. Selayaknya cinta lebih indah jika kau arahkan kepadaNya. Sang Maha Cinta. Yang cintanya tidak akan pernah habis kepadamu hingga menghadiahkanmu cinta yang teramat indah untuknya yang telah menjadi takdirmu.

Sebenarnya, aku masih belum terlalu mengerti cinta itu apa. Tapi itulah yang kutahu tentang cinta.
:)
Senin, 10 Jun. 14.  00 : 04 wita.

Senin, 02 Juni 2014

Merry Girl

Hujan.
aku suka hujan. meski tak bisa menikmatinya berlama-lama. tapi yang paling kusukai dari hujan adalah saat ia reda. saat itu biasanya akan muncul garis-garis warna yang mereka namakan pelangi. aku tak ingat sejak kapan aku selalu memandang pelangi ketika ia muncul dititian lazuardi. yang kuingat sekarang hanyalah aku suka pelangi. yah, aku suka pelangi.

Ada beberapa hal lagi yang kuingat tentang pelangi. ketika aku kecil, orang-orang dewasa melarangku untuk menunjuk pelangi. jika aku menunjuknya, maka aku harus menggigit jari telunjukku (yang kupakai menunjuk pelangi itu). katanya sih, karena menunjuk pelangi, pelangi bisa menjadi cepat hilang.#Mitos pertama
Kemudian, orang-orang dewasa sering bercerita -yang sempat kuyakini saat kecil- Dua ujung pelangi itu memiliki tempat masing-masing. jika ujung yang satu berasal dari kuburan anak kecil, maka ujung yang lain akan ada disebuah sumur atau sungai. katanya sih, para bidadari sedang main air disungai atau sumur itu, dan apabila pelangi mulai memudar sedikit-sedikit maka artinya bidadarinya sudah selesai main air.#Mitos kedua.

itu hanya kebodohan masa kecil kan?  dan aku tetap suka pelangi hingga saat ini. aku pernah menunggu disebuah ayunan dekat rumah ketika aku dibalikpapan kemaren. aku hanya menunggu pelangi. lebih tepatnya pelangi senja. dan itu ada. penantianku tak sia-sia. padahal aku tak pernah yakin bisa melihatnya. #Bodoh
Tapi nyatanya aku dapat melihatnya saat itu dan membuat sebuah puisi tentang pelangi senja. haha
mengapa aku suka hujan? karena dengan hujan aku dapat melihat pelangi yang ku cintai. itu kesimpulannya.

Pelangi. mungkin kau pernah membaca goresannya tentang "mereka yang memanggilku pelangi". sebenarnya itu hanya diriku yang aneh. seseorang yang tak ku kenal dan aku memintanya menjadi My Pelangi #Sok Memiliki (padahal tidak). mudah saja sebenarnya. aku ingin sebuah pelangi yang bisa aku dengar, bukan hanya dia yang mendengarkanku. seperti pelangi senja yang selalu ku ajak bicara itu namun diam saja. jadi aku menemukannya. menemukannya disebuah ruang, lalu menjadikannya Pelangiku. #haha (sudah kubilang aku aneh!)
 lalu yang lebih aneh, aku selalu menyebut diriku Sang Sunyi. tapi dia bersikeras mengatakan padaku, "Kau bukanlah Sang Sunyi, Kau selalu menghadirkan keceriaan ketika kita bertemu. jadi aku akan memanggilmu Merry, Merry Girl. sebenarnya aku mau memakai bahasa arab, tapi aku lebih bisa memakai bahasa inggris. jadi itu dari bahasa inggris yang artinya gadis periang" begitulah kira-kira kata-katanya waktu itu. dan resmilah aku menjadi My Merry Girl nya. (bahasa kacau).

dan, aku adalah orang kedua yang memanggilnya Pelangi. tentu saja aku penasaran dengan orang pertama itu. aha... dia orang yang teramat manis ternyata (meskipun aku tak pernah melihatnya apalagi menjilatnya). tapi itu kata pelangi #Baca lagi di Pelangi Kata

Baiklah Pelangi. Terima kasih dengan panggilan sayang "Merry Girl" darimu. cause dengan itu aku selalu bisa menjadi gadis periang meskipun sebenarnya aku tetaplah Sang Sunyi. #Hihihihi

bukankah jelas tentang Sang Sunyi? kau bahkan tidak mengenalnya dengan baik kan? tapi, Hei...apa aku sudah mengenalmu dengan baik? Entahlah, mungkin lebih banyak yang tidak ku kenal darimu. Oia, kau sudah membaca Ranggin Kaman itu kan? bacalah seksama sekali lagi. kau akan menemukan hasil dari percakapan kita. tentang bulan dan sebagainya. ingat gak ketika aku mengirim pesan kepadamu tentang bulan itu??? #ayolah kau pasti ingat! (karena aku takut tak bisa menyimpannya dengan baik, jadi ku sisipkan saja dia pada cerpen dan puisi. dan disaat membacanya kembali aku akan ingat. itu adalah kita).
soal mabit, aku tak bisa memberimu jawaban pasti. #maaf, (mungkin Kisna dan Lembayung bisa memberimu jawaban itu).
kau sendiri tahu kan, kondisiku? bom waktu yang siap meledak kapan saja didalam diriku. ingat tidak kita juga pernah membicarakan ini? #kukira disuatu malam

tapi dimana pun kita. Tugas kita hanya Melukis Cahaya dan membiarkan orang lain melihat cahaya kita yang telah kita lukis. Bukan begitu? 
Salam ceria untukmu.

_kau yang diujung sana, dan kau yang menghiasi langit yang bernama PELANGI_