Mungkin jika ada orang lain yang melihat aktivitasku pagi
ini akan geleng-geleng kepala. Menganggapku kurang kerjaan bahkan sedikit gila. Ya... aku memang mencoba
menjadi gila pagi ini. Tergila-gila oleh sebuah keingintahuan. “Mengurai
Benang Kusut”.
Benang putih yang menjadi kusut sebenarnya sebuah
kesalahanku yang tidak ku sengaja kemarin sore. Aku membiarkannya dan
menjadikannya lebih kusut lagi. Lalu pagi ini aku melihatnya lagi ditempat
penyimpanan benang sewaktu aku ingin menjahit jilbabku yang kurasa agak longgar
dibagian dagu. Singkatnya aku mencoba mengurai benang kusut itu lagi. Mencoba
merapikannya yang telah menjadi begitu ruwet. Bahkan sebenarnya jika kalian
melihatnya, maka yang ada dibenak kalian hanya membuangnya. Sedangkan aku yang
memang otaknya sedikit error tidak akan berfikiran sama. Satu hal dalam benakku
“Mengapa tidak mencoba mengurainya?”
Kalian tahu? ini bukanlah pekerjaan mudah. Sangat tidak
mudah. Hingga kakak iparku berkata : “ sudahlah, tidak akan bisa. Potong
saja dengan gunting. Cepat jadinya!”. “Tidak.... Aku yakin pasti bisa!”
Kalian tahu apa yang ada didalam otakku saat itu? Ya...
Mengapa manusia selalu berfikir serba instan? Tak ada sedikitpun perjuangan? Geulse. Padahal, jika ingin berusaha dan
bersabar, sesuatu yang sulit pun pasti bisa teratasi.
Aku berfikir. Jika mengguntingnya saja, memang akan dengan
cepat menghilangkan benang yang kusut. Hanya tinggal membuang yang kusut.
Selesai.
Ya... jika itu hanya sebuah persoalan benang. Itu sangat
mudah. Tapi bagaimana dengan manusia dengan segala dinamika kehidupannya?
Apakah jalan yang instan akan menyelesaikan polemik hidup begitu saja? Sebagai
contoh ada seorang yang ditinggal kekasih mengambil jalaninstan : bunuh diri. katanya
tak bisa hidup tanpanya. Padahal itu hanya sebuah kebodohan yang paling bodoh.
Andai dia mau berfikir jernih lagi. Dia bisa saja mendapatkan seseorang yang
jauh lebih bisa membahagiakannya. Masih Ada lagi sebuah jalan instan yang
sering di ambil oleh sebagian bahkan kebanyakan orang : mencuri. Katanya karena
tak punya uang (kalo pejabat-pejabat yang korupsi itu alasannya kira-kira apa
yah?). Padahal itu hanya kebodohan yang paling bodoh. Bagaimana tidak jika
berakhir bonyok dihajar massa dan mendekam dibalik jeruji penjara? Keluar pun
tetap di juluki mantan napi. Harus diwaspadai. Ini. Itu. Tak ada kepercayaan. Andai
saja pada awalnya ia mau berusaha lebih giat, dan bersabar lebih banyak
daripada kesabaran yang pernah dimilikinya. Bukankah Allah takkan pernah
menyia-nyiakan hambaNya?
Ya... Andai saja manusia mau berusaha lebih giat daripada
giat yang pernah dimilikinya. Bersabar lebih banyak daripada kesabaran yang
pernah dimilikinya. Aku yakin tak ada yang tak punya jalan keluar yang jauh
lebih baik daripada memilih jalan instan yang bodoh.
Seperti pagi ini saat aku mengurai benang kusut itu. Hanya
butuh usaha dan kesabaran yang lebih dari yang pernah kumiliki sebelumnya.
Hingga pada akhirnya benang itu tidak kusut lagi. Meski terputus. Tapi bukankah
masih bisa terpakai lagi. Bahkan sekalipun bagian yang terputus itu. Tak ada
yang terbuang sia-sia. Arachi?
Rabu, 11 Juni 2014
08:15 wita.
0 komentar:
Posting Komentar