Rabu, 11 Juni 2014

Coretan Lusuhku: Mengurai Benang Kusut



Mungkin jika ada orang lain yang melihat aktivitasku pagi ini akan geleng-geleng kepala. Menganggapku kurang kerjaan  bahkan sedikit gila. Ya... aku memang mencoba menjadi gila pagi ini. Tergila-gila oleh sebuah keingintahuan. “Mengurai Benang Kusut”.

Benang putih yang menjadi kusut sebenarnya sebuah kesalahanku yang tidak ku sengaja kemarin sore. Aku membiarkannya dan menjadikannya lebih kusut lagi. Lalu pagi ini aku melihatnya lagi ditempat penyimpanan benang sewaktu aku ingin menjahit jilbabku yang kurasa agak longgar dibagian dagu. Singkatnya aku mencoba mengurai benang kusut itu lagi. Mencoba merapikannya yang telah menjadi begitu ruwet. Bahkan sebenarnya jika kalian melihatnya, maka yang ada dibenak kalian hanya membuangnya. Sedangkan aku yang memang otaknya sedikit error tidak akan berfikiran sama. Satu hal dalam benakku “Mengapa tidak mencoba mengurainya?”

Kalian tahu? ini bukanlah pekerjaan mudah. Sangat tidak mudah. Hingga kakak iparku berkata : “ sudahlah, tidak akan bisa. Potong saja dengan gunting. Cepat jadinya!”. “Tidak.... Aku yakin pasti bisa!”

Kalian tahu apa yang ada didalam otakku saat itu? Ya... Mengapa manusia selalu berfikir serba instan? Tak ada sedikitpun perjuangan?  Geulse. Padahal, jika ingin berusaha dan bersabar, sesuatu yang sulit pun pasti bisa teratasi.

Aku berfikir. Jika mengguntingnya saja, memang akan dengan cepat menghilangkan benang yang kusut. Hanya tinggal membuang yang kusut. Selesai.

Ya... jika itu hanya sebuah persoalan benang. Itu sangat mudah. Tapi bagaimana dengan manusia dengan segala dinamika kehidupannya? Apakah jalan yang instan akan menyelesaikan polemik hidup begitu saja? Sebagai contoh ada seorang yang ditinggal kekasih mengambil jalaninstan : bunuh diri. katanya tak bisa hidup tanpanya. Padahal itu hanya sebuah kebodohan yang paling bodoh. Andai dia mau berfikir jernih lagi. Dia bisa saja mendapatkan seseorang yang jauh lebih bisa membahagiakannya. Masih Ada lagi sebuah jalan instan yang sering di ambil oleh sebagian bahkan kebanyakan orang : mencuri. Katanya karena tak punya uang (kalo pejabat-pejabat yang korupsi itu alasannya kira-kira apa yah?). Padahal itu hanya kebodohan yang paling bodoh. Bagaimana tidak jika berakhir bonyok dihajar massa dan mendekam dibalik jeruji penjara? Keluar pun tetap di juluki mantan napi. Harus diwaspadai. Ini. Itu. Tak ada kepercayaan. Andai saja pada awalnya ia mau berusaha lebih giat, dan bersabar lebih banyak daripada kesabaran yang pernah dimilikinya. Bukankah Allah takkan pernah menyia-nyiakan hambaNya?

Ya... Andai saja manusia mau berusaha lebih giat daripada giat yang pernah dimilikinya. Bersabar lebih banyak daripada kesabaran yang pernah dimilikinya. Aku yakin tak ada yang tak punya jalan keluar yang jauh lebih baik daripada memilih jalan instan yang bodoh.

Seperti pagi ini saat aku mengurai benang kusut itu. Hanya butuh usaha dan kesabaran yang lebih dari yang pernah kumiliki sebelumnya. Hingga pada akhirnya benang itu tidak kusut lagi. Meski terputus. Tapi bukankah masih bisa terpakai lagi. Bahkan sekalipun bagian yang terputus itu. Tak ada yang terbuang sia-sia. Arachi?

Rabu, 11 Juni 2014
08:15 wita.

0 komentar:

Posting Komentar