Sebenarnya aku masih belum terlalu mengerti cinta itu apa. Itu bahasa apa
dan artinya apa. Karena itu aku tak tahu harus bertindak apa kepada cinta.
Mereka mengatakan, cinta itu sebuah rasa. Rasa yang tumbuh indah didalam jiwa. Layaknya
sakura-sakura yang mekar dimusim semi. Itu sih katanya. Entahlah... mungkin aku
harus lebih banyak bertanya kepada pakar cinta. Meski itu kepada siapa aku juga
tak tahu.
Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala
kelebihannya, itu hanya sebuah simpati bagiku. Bukan cinta. Sebab, Jika engkau kemudian melihat sebuah
kekurangannya, simpati bisa menjadi antipati.
Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala
kebaikannya kepadamu, itu hanya sebuah hutang budi bagiku. Bukan cinta. Sebab, Jika
engkau melihat sebuah keburukannya, maka tak ada lagi hutang budi, yang ada
hanya ingin menghindarinya.
Jika cinta dikatakan ketika engkau melihatnya dengan segala
kelemahannya, itu hanya sebuah belas kasihan bagiku. Bukan cinta. Sebab, Jika engkau
melihat sebuah kelebihannya, pada akhirnya engkau hanya akan berfikir ia tak
lagi membutuhkanmu.
Jadi sungguh aku tak mengenal cinta yang sanggup untuk
dikatakan. Cinta bagiku adalah hening.
Sebuah rasa yang menelusup diam-diam, dan juga dirasakan dengan diam.
Lalu dibuang dengan diam ketika belum saatnya rasa itu menelusup. Seperti saat
aku menghirup aroma senja diam-diam, dan menghembuskannya diam-diam.
Katanya sih, cinta itu beda tipis dengan yang namanya benci.
Itu menurut teori aneh yang pernah kudengar, lalu pada akhirnya aku berfikir. Apakah
aku tak bisa mencinta jika tidak pernah membenci? Ah, aneh....mengapa cinta
harus didasari oleh benci? Ajaib!
Yang Aku tahu, cinta itu adalah kehidupan. Rasa itu adalah
cahaya. Namun jika cahaya bersinar dalam ruang yang terang benderang, yang ada
hanya akan melukai kehidupan. Sebab cahaya hanya dibutuhkan ketika gelap
menyapa. (Gelap = sebuah keadaan yang siap menerima cahaya). Bukan
ketika terang menyelimuti sekeliling.
Tapi yang paling pasti, cinta itu adalah perangkap rasa.
Sekali kau salah berlaku, maka selamanya kau akan terpenjara dibalik jeruji
cinta. Bukan tentang bahagia. Melainkan derita. Sungguh begitulah cinta.
Layaknya setangkai mawar berduri. Ia terlihat begitu indah. Sangat-sangat
indah. Namun dibalik indah itu ada duri yang siap menikam jua, jika engkau tak
berhati-hati memegangnya.
Sungguh cinta. Ia adalah sebuah rasa yang anggun sebenarnya.
Karena itu rasailah ia dengan keanggunan pula. Dalam sebuah keheningan. Bukan
sesumbar, bukan meluahkannya berlebihan. Sebab, jika itu terjadi, cinta bisa
pula berubah menjadi sebuah rasa yang bengis dan sadis. Meluluh lantahkan,
mengoyak keindahan, lalu menghancurkan. Ia tidak lagi menjadi cinta. Tapi
ambisi.
Dan sungguh cinta (lagi). Ia adalah titipan dariNya yang
diberikan kepadamu untuk seseorang. Sekedar titipan. Bukan milikmu. Maka
akankah kau memberikan sepenuhnya kepada seseorang itu yang bahkan belum tentu
menjadi takdirmu? Sungguh tidak. Selayaknya cinta lebih indah jika kau arahkan
kepadaNya. Sang Maha Cinta. Yang cintanya tidak akan pernah habis kepadamu
hingga menghadiahkanmu cinta yang teramat indah untuknya yang telah menjadi takdirmu.
Sebenarnya, aku masih belum terlalu mengerti cinta itu apa.
Tapi itulah yang kutahu tentang cinta.
:)
Senin, 10 Jun. 14. 00
: 04 wita.
0 komentar:
Posting Komentar