Tak terbaca sepi yang tertulis pada kelopak kembang kuning manakala matahari bening. terjatuh lagi?
ya..Runtuh... meluruh bagai hujan yang tak terhalau oleh jemari. lalu ku pilih laut sebagai muara luahan tangis, sebelum biru menelan matahari dan menjadikannya remah-remah cahaya pada senja yang masih menggilai jingga. mengapa tak kupilih saja matahari membakar kelopak mata dan menggugurkan embun-embun yang lama hinggap dipucuk-pucuk dan tertahan? bukankah telah kupilih diam sebagai jeda sebelum menuntaskan kepakan yang mengantar awan menemui rembulan? ah...tidak.
hanya sekedar lakaran yang tak terjamahi. pada semesta rindu. sudah itu saja.
( i wanna be snow)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar