Senin, 24 Maret 2014

Ranggin Kaman



Sehari, dua hari, sebulan, setahun atau mungkin puluhan tahun, masa yang pendek atau bisa jadi sangat lama untuk merawat kerinduan. Kita tak berkisah seperti dalam pewayangan. Namun, terkadang banyak hal yang sulit untuk kita mengerti. Dan itu butuh sedikit kejelian yang lebih dari yang sudah-sudah. Bukan. Bukannya tak keras, tapi harus lebih keras lagi.” 

            Sebuah goresan telah menghiasi buku kecilku, buku kenanganku, buku yang sedikit banyaknya menampung kisahku dengan susah payah, mungkin terkadang dia harus mengurai airmata untuk tulisan-tulisanku yang mendiaminya. Atau aku. Menuliskan segala tentangmu sepertinya membuatku  membutuhkan lebih banyak tinta. Ini diam atau angin? Entah. Aku rindu. Itu saja. Kamu dimana?. Merindumu dengan segala rayuanmu. Elang...aku sungguh rindu.
            “manis.....kamu dimana?”
            “dirumah...kenapa?”
            “aku kesana ya cinta?”
            “ngapain?”
            “kangen”
            Kangen. Kamu tau? Saat ini rasa kangenku melebihi ucapanmu waktu itu. Kamu dimana?. Apa aku punya salah padamu? Mengapa kamu menghilang?. Ah, sudah terlalu panjang jeda kita. Aku mungkin takkan sanggup untuk jeda yang lebih lama lagi.
Aku adalah cinta
Yang menghampirimu dengan seikat setia
Aku adalah rindu
Yang menggenggammu sepanjang napasku.......
Kau menggodaku  lagi. Ku tatap layar Hpku yang berisi pesanmu 5 tahun lalu. Dan beberapa pesanmu yang lain untuk meleburkan kerinduanku. Tapi ternyata justru semakin membuncah. Kamu kejam. Bisa-bisanya kau katakan dengan seikat setia sedangkan saat ini kamu entah dimana. Hujan. Sepertinya langit cukup mengerti aku, apa mungkin langitku pun tengah merindumu? Elang Kamu dimana?
“Ting....Tong.....Assalamu’alaikum” hmm....siapa yang datang disaat begini? Tak cukup mengertikah bahwa aku sedang tidak ingin diganggu? Tidakkah dia tahu kalau aku tengah merindu bersama hujan? Ah...mana mungkin dia tahu. Sedikit malas ku langkahkan kakiku beranjak meninggalkan meja belajarku. Bunyi bel bersahut-sahutan. Sepertinya orang yang menekannya tidak sabaran. Mengingatkanku kembali caramu bertamu apabila berkunjung kerumahku.
Iya....sebentar....wa’alaikumsalam warohmatulloh”. Siapa sih yang datang?. Perlahan kubuka daun pintu dan menemukan dua sosok manusia yang kurasa asing bagiku.
“maaf...cari siapa?” yang kudapatkan bukanlah sebuah jawaban, melainkan sebuah pelukan tiba-tiba dan ciuman yang mendarat dipipiku dari salah seorang diantara mereka. Tentu saja membuatku kikuk. Hei...siapa ini?
“Tuh kan kak....sudah kukatakan dia pemalu” ucap dara manis berjilbab biru dengan gamis senada yang masih melingkarkan tangannya dipinggangku. Seenaknya saja dia memperlakukanku seperti ini. Didepan seorang ikhwan? Dan asing? Siapa ini? Tapi suaranya?.
“k..ka..kamu?”
“Ya....aku”
“Elang?” masih tak percaya.
“sekian tahun masih memanggilku Elang?” dua bola mata yang jernih itu melotot lucu.
            “benar kamu Elang?” kini aku yang menyerbunya dengan pelukan erat dan airmata yang tertahan dipelupuk mataku. Elang. Aku mimpi?. Ini terasa sangat nyata. Mana mungkin sekedar khayalku? Jika benar mimpi, aku tak ingin terbangun lagi. Maka ku coba menepuk-nepuk pipiku sendiri.
            ini bukan mimpi sayang....ini benar aku. Aku, Elang” penekanan “Elang” yang kurasa tidak begitu baik. Tak peduli.  Aku sudah bisa menguasai diriku dan ini bukan mimpi.
            “khem....” suara lain berdehem menyadarkan aku. Ada orang asing berdiri tak jauh dari kami.
            dan ini siapa?” adegan berpelukan yang membuat kami nyaris melupakan seseorang. Ikhwan berbaju koko warna krem dipadu celana kain diatas mata kaki dan kini tengah tersenyum geleng-geleng kepala menatap kami.
            “ini.....” kau tersenyum lama tanpa terlebih dulu menjelaskan. Mengundang seribu tanda tanya. Mungkinkah?. Seperti biasa, kamu mampu membaca tatapanku.
            “he’em Mentari....dia saudaramu sekarang. Pangeranku”. Sedangkan yang disebut tersipu malu. Elang. Kau tidak berubah. Masih senang menggoda. Dan sekarang bukan hanya aku. Tapi seseorang yang ada dihadapanku kini.
            “Apa kita hanya akan berdiri disini nona-nona?” Sang Pangeran bersuara lagi.
            “ Ah tidak, tentu saja. Mari kita masuk” jawabku. “Kau harus menjelaskan lebih banyak kepadaku Elang, berapa lama kau disini?” kita melangkah masuk. Berjalan beriringan. Sementara Iqbal mengekori kita dibelakang.
            “ Satu minggu” kau menghempaskan dirimu ke sofa sederhanaku.
            “Hanya satu minggu?”. Kau telah menangkupkan rindu yang amat dahsyat dan sekarang kau mengatakan satu minggu?
            “Kak Iqbal harus berangkat ke Macau minggu depan. Dan aku harus ikut”.
            “Kita kedapur? Sekarang kamu sudah berumah tangga. Kau harus memasak untukku. Berlalu meninggalkan Iqbal yang kini ditemani Ayah.
***
            “Hari ini seseorang akan datang” . menjelaskan setelah kau  paksa aku menjawab menyuruhmu datang pagi-pagi begini .
            “siapa?”
            “lihat saja nanti”. Bibirmu memonyong lucu. Kamu masih tidak berubah. Kecuali kini penampilanmu yang lebih Syar’i. Masih lekat diingatanku. Kau yang senantiasa memakai jeans belel yang bolong dibagian lutut, kemeja kotak-kotak yang lengannya digulung mendekati siku, sepatu  kets, topi. Style yang selalu membuatku cerewet menasehatimu. Tapi sekarang entah bagaimana Iqbal bisa mengubahmu seperti ini. Bagaimana pun itu, aku sangat berterima kasih padanya.
            “dia sudah datang, kalau itu memang dia”. Segera kau menghambur membuka pintu kamar dan mengintip seseorang yang kini telah duduk di Sofa bersama Ayah dan Iqbal.
            “dia keren juga Mentari. Sepertinya baik. Aku akan merelakanmu” kau berbicara sementara matamu masih mengawasi keadaan diluar kamar.
            “Kau ingat siapa dia?” Ujarku.
            “ Apa aku mengenalnya? Siapa? Sepertinya dia masih asing bagiku!”
            “Kau ingat Fadhil teman sekelas kita dikelas satu SMA?”
            “cowok kurus berkacamata, kutu buku, dan mengirimkan surat kepadamu?”
            “ya...itu dia!”
            “Kau gila Mentari, cowok cupu itu? Yang entah pindah ke planet mana?”
            “Hust.....Aku menolaknya bukan karena dia cowok cupu. Tapi karena Allah...Elang”
            “Iya bu Ustadzah.... Tapi bagaimana sekarang dia bisa sekeren itu?” “dan untuk apa dia kemari? sepertinya banyak episode yang ku lewatkan”
            “kita sudah terlalu banyak jeda Elang” terputar kembali kaset kenangan di memori otakku, tentang kebersamaan kita beberapa tahun yang lalu hingga kau menghilang tanpa kabar.
***
            Masih, ada beberapa yang tertinggal diujung jalan itu. kita pun menoleh sejenak sebelum pada akhirnya kita berlari dan berlomba hingga nafas terengah-engah. tawa memburai, mengejutkan pipit-pipit yang tadinya asyik mematuk-matuk buliran padi yang telah menguning.
''menurutmu kemana mereka pergi?". disela derai tawa kau membuka percakapan. jari telunjukmu mengarah kepada sekawanan burung berwarna putih yang entah apa namanya.
"kesarangnya mungkin"
"bagaimana kalau kita ikuti?"
"kau gila!"
"baru tahu aku gila? bukannya sudah lama kita bersahabat?"
"kamu memang tak pernah waras sedikit pun, huh!"
"kau sama saja sepertiku".
Tawamu berderai lagi, memperlihatkan gigi-gigi putihmu yang berjajar rapi. sementara mungkin ini hari terakhir kebersamaan kita kali ini. dan kita berbagi cerita pada saat-saat akhir kita dipematang sawah sambil memainkan ilalang yang masih berembun karena gerimis disiang tadi. suara-suara jangkrik memecah sunyi disekeliling kita. terkadang kamu masih saja membuatku bingung. aku aneh, tapi rasanya kamu lebih aneh dariku. menurutku. haha. Hutan, sawah habis kita jelajahi. bahkan sumur yang katanya angker menurut mereka tak luput kita kunjungi. keangkeran yang masih jadi tanda tanya dalam benakku, kurasa begitu juga denganmu.
"bagaimana kita akan menjalani hidup dimasa depan?". pandanganmu mengudara. menyusuri garis-garis langit yang tak karuan dengan berbagai bentuk. bahkan bentuk teraneh yang tak pernah ada. ada disana.
"bagaimana kita akan menjalani hidup dimasa depan?".  gantian aku yang bergumam merapal imaji tentang masa depan yang mungkin akan terlewati seperti saat ini.
"kamu punya mimpi lain?"  Pertanyaan yang mengagetkanku di antara khayal yang mulai memenuhi ruang benak.
"mungkin".
“Apa mimpimu?"
"harus kau tahu?"
"Sejak kapan kau menyimpan rahasia sendiri?"
"Sejak kapan ya?" menatap matamu yang penuh selidik. bangkit. berjalan pulang.
"Hei....kau belum jawab!!!"
"Tunggu saja nanti". berlari dan kau pun mulai mengejar menjejeri langkahku sambil menggerutu.
“Kamu benar akan pulang besok Elang?”
“Ya...harus, tapi tenang saja, aku pasti datang di hari akad nikahmu”
“itu kewajiban dan tak bisa kau langgar”
“baiklah” ucapmu jenaka, sementara aku diam-diam menyisiri setiap lekuk wajahmu yang kini dilengkapi jilbab hijau tua yang semakin memancarkan aura kecantikan alamimu, kemudian mengalihkan pandanganku kelangit. Tak ingin tertangkap basah olehmu.

Gengsi.
“bagaimana kalau kita selesaikan sore kita dengan ini?” ku lihat ditanganmu telah tergenggam bunga rumput.
“bertanding bunga rumput? Siapa takut?”
“peraturannya masih ingat kan?”
“siapa yang kalah harus menggendong yang menang” jawabku bersemangat.
“dan aku pasti menang!!”
“buktikan saja elang” pertandingan pun dimulai, kita saling membelitkan bunga rumput dengan cara dipilin berlawanan, siapa yang terputus. Dia lah yang harus menerima konsekuensi kekalahan.
“Yaaahhh,,,,,aku kalah lagi” keluhmu.
“sejak kapan kau pernah menang?” nadaku sedikit mengejek.
“Ya..ya...ya” tampang putus asamu selalu berhasil membuatku tertawa, lalu kau menyusulku kemudian, taruhan tak benar-benar kita lakukan, kecuali di masa SD kita dulu. Itu sebuah kewajiban.
***
Senja telah menghilang berganti malam, dan aku kembali menekuri buku kecilku. Buku kenanganku, menuliskan kata demi kata yang mengisi fikiranku lalu menyimpannya lagi di laci meja belajarku yang menghadap kejendela. Tatapanku tertuju ke sebuah album yang tak lagi baru, tapi selalu kujaga baik-baik. Membuka lembaran-lembarannya. Dan...
“Hei....melamun saja!” kedatanganmu tiba-tiba dengan memukul pundakku membuatku terlonjak kaget demi gemuruh tawamu yang tanpa kendali.
“Puas?”
“sumpah...kamu lucu banget kalau kaget Mentari” masih tawa menguasaimu.
“asal anda senang, jantungku berhenti berdetak juga gak apa-apa” ujarku sok marah.
Oke....jangan marah, ok? Aku hanya bercanda. Hmm....apa ini?” dengan lincah kau menyambar album yang sedari tadi membangkitkan kenanganku tentang kita tanpa menunggu jawaban dariku.
“jadi kamu masih menyimpan semua foto-foto kita ini?”
“memang menurutmu aku akan membuangnya begitu saja?”
“ya tidak sih...!!! tapi apa ini? Ranggin Kaman? Apa itu?” jarimu menunjuk pada keterangan yang ku tulis dengan panah menunjuk ke arah fotomu.
“mau tahu?”
“sangaaattt...”
“hmm.... Ranggin Kaman itu artinya jelek, item, dekil...”
“Cukup....sepertinya aku akan tidak tahan mendengarnya”
“bukankah kau ingin tahu?”
“lalu apa lagi?” tanyamu penasaran.
“kau lihat bulan itu? Itu purnama. Apakah akan ada purnama yang sama?”
“akan selalu ada purnama yang sama, meski tak sama ia nyaris sama”
“mungkin akan ada purnama yang sama, tapi kita tak dapat melihatnya bersama.”
“suatu waktu kita akan bersama lagi untuk melihat purnama Mentari”
“Yaah... kuharap waktu itu ada”
“bukankah aku telah berjanji untuk kembali?”
“kau harus menepati janjimu” tapi akankah aku masih dapat menunggumu Elang?
“ini sudah malam, sebaiknya kau tidur Elang, besok kau harus berangkat.” Aku berlalu meninggalkannya.
“aku akan tidur disini menemanimu, aku sudah bilang pada kak Iqbal”
“begitukah?”
“He’em” matamu mengedip genit. Dasar!!!
“ Apa itu Ranggin Kaman?” kamu masih mengejarku dengan pertanyaan itu, ku tahu logikamu tak akan mengijinkanmu menyerah begitu saja dengan definisi yang ku berikan tadi.
“ Ranggin Kaman itu......” jawabku mengambang dan membuatmu tak sabaran menunggu.
“ ya?”
“Ituuuu....”
“Yaaaaa???” kau semakin tak sabar.
“Tidurrrr!!!!” jawabku seenaknya sambil menutup seluruh badanku dengan selimut tanpa menghiraukan gerutu kesalmu.
***
            Hari esok itu akhirnya tiba juga, dimana saat aku mungkin akan kehilanganmu lagi, atau kau yang akan kehilanganku? Entahlah. Tapi yang pasti, aku bahkan tak pernah mengharapkan hari ini.
“Tak bisakah kau tinggal satu hari lagi saja?” rasanya begitu berat melepaskanmu.
“Aku pasti akan datang lagi Mentari.”
“Tenanglah Mentari..... aku pasti menjaga nona cerewet ini” ucap Iqbal yang kini telah berdiri disampingmu setelah mengemasi semua barang-barangmu kedalam mobil.
“Terima kasih Iqbal.... tolong jaga dia baik-baik, aku akan merindukan kalian”
“Aku juga akan selalu merindukanmu Mentariku sayang”
“dia merindukanmu lebih banyak dari merindukanku” sambung Iqbal berlagak cemburu dan sedikit mencairkan suasana haru itu.
“ Ya... Kalian harus segera kembali mengunjungi gubuk kecilku ini”
“ ini istana kita Mentari, Istana kenangan kita, dan aku akan selalu datang kepadanya”
“baiklah Mentari....kami harus berangkat” Iqbal lebih sering bersuara dari biasanya. Mungkin ia mengerti suasana. Ku lepas pelukan Elang dan ia beranjak dariku menuju mobil. Kutangkap bening mengalir disudut matanya.Tuhan...jagakan dia untukku. Aku sungguh menyayanginya karenaMu.
“ Ah... Iqbal....tunggu!!!”
“ Kenapa Mentari?”
“Simpan ini untuknya, setelah kalian sampai, berikan kepadanya”
“apa ini?”
“nanti ia akan tahu. Termasuk jawaban pertanyaannya semalam”
“baiklah...terima kasih”
“sekali lagi terima kasih Iqbal, sudah menjadikannya bidadari surga”
“itu wajib Tuan Putri”
“hehehe....berangkatlah. nanti kalian ketinggalan pesawat”
“baiklah...Assalamu’alaikum Mentari, ayah” Iqbal menelungkupkan tangannya didepan dada kepadaku dan mencium tangan ayah penuh takzim.
“wa’alaikumussalam warohmatulloh wabarokatuh” aku dan ayah menjawab hampir serempak.
“hati-hati iqbal” sambung ayah kemudian.
Beberapa saat kemudian, mobil yang membawa Elang dan Iqbal pun mulai meninggalkanku yang mematung di tengah kebisuanku. Rasa sesak semakin membuncahi dadaku. Aku tak tahan lagi. Pertahananku bobol. Senyum dan tawaku tak berarti. Cairan bening itu tumpah juga. Pelangi..... seseorang yang selalu dapat mengerti aku, memahamiku, menemaniku sebelum  menghilang dan akhirnya datang lagi meski sekejap.  Ah.... akankah dapat aku bertemu denganmu lagi? Ku harap. Ranggin Kaman itu kamu. Pelangi.
 Cairan hangat kurasa mulai mengalir perlahan. Tapi ia tak berasal dari kedua bola mataku. Ia mengalir dari yang lain dan menitik ketanganku. Darah. Lagi? Aku terpaku menatap cairan merah itu. Lagi dan lagi. Dari hidungku. Aku masih terpaku. Ku dengar suara ayah meneriakkan namaku. Memanggil-manggilku. Tapi aku tak tahu bagaimana menjawabnya. Dan. Gelap......!!!

***Sekian***


 






0 komentar:

Posting Komentar