“Sehari, dua hari, sebulan, setahun atau mungkin puluhan tahun,
masa yang pendek atau bisa jadi sangat lama untuk merawat kerinduan. Kita tak
berkisah seperti dalam pewayangan. Namun, terkadang banyak hal yang sulit untuk
kita mengerti. Dan itu butuh sedikit kejelian yang lebih dari yang sudah-sudah.
Bukan. Bukannya tak keras, tapi harus lebih keras lagi.”
Sebuah goresan
telah menghiasi buku kecilku, buku kenanganku, buku yang sedikit banyaknya
menampung kisahku dengan susah payah, mungkin terkadang dia harus mengurai
airmata untuk tulisan-tulisanku yang mendiaminya. Atau aku. Menuliskan segala
tentangmu sepertinya membuatku membutuhkan
lebih banyak tinta. Ini diam atau angin? Entah. Aku rindu. Itu saja. Kamu
dimana?. Merindumu dengan segala rayuanmu. Elang...aku sungguh rindu.
“manis.....kamu
dimana?”
“dirumah...kenapa?”
“aku kesana ya
cinta?”
“ngapain?”
“kangen”
Kangen. Kamu tau? Saat ini rasa kangenku melebihi ucapanmu waktu itu. Kamu
dimana?. Apa aku punya salah padamu? Mengapa kamu menghilang?. Ah, sudah
terlalu panjang jeda kita. Aku mungkin takkan sanggup untuk jeda yang lebih
lama lagi.
Aku adalah cinta
Yang menghampirimu dengan seikat setia
Aku adalah rindu
Yang menggenggammu sepanjang napasku.......
Kau menggodaku lagi. Ku
tatap layar Hpku yang berisi pesanmu 5 tahun lalu. Dan beberapa pesanmu yang
lain untuk meleburkan kerinduanku. Tapi ternyata justru semakin membuncah. Kamu
kejam. Bisa-bisanya kau katakan dengan seikat setia sedangkan saat ini kamu
entah dimana. Hujan. Sepertinya langit cukup mengerti aku, apa mungkin langitku
pun tengah merindumu? Elang Kamu dimana?
“Ting....Tong.....Assalamu’alaikum” hmm....siapa yang datang disaat begini? Tak cukup mengertikah bahwa
aku sedang tidak ingin diganggu? Tidakkah dia tahu kalau aku tengah merindu
bersama hujan? Ah...mana mungkin dia tahu. Sedikit malas ku langkahkan kakiku
beranjak meninggalkan meja belajarku. Bunyi bel bersahut-sahutan. Sepertinya
orang yang menekannya tidak sabaran. Mengingatkanku kembali caramu bertamu apabila
berkunjung kerumahku.
“Iya....sebentar....wa’alaikumsalam warohmatulloh”. Siapa sih
yang datang?. Perlahan kubuka daun pintu dan menemukan dua sosok manusia
yang kurasa asing bagiku.
“maaf...cari siapa?” yang
kudapatkan bukanlah sebuah jawaban, melainkan sebuah pelukan tiba-tiba dan
ciuman yang mendarat dipipiku dari salah seorang diantara mereka. Tentu saja
membuatku kikuk. Hei...siapa ini?
“Tuh kan kak....sudah kukatakan dia pemalu” ucap dara manis berjilbab biru dengan gamis senada yang masih
melingkarkan tangannya dipinggangku. Seenaknya saja dia memperlakukanku
seperti ini. Didepan seorang ikhwan? Dan asing? Siapa ini? Tapi suaranya?.
“k..ka..kamu?”
“Ya....aku”
“Elang?” masih tak percaya.
“sekian tahun masih memanggilku Elang?” dua bola mata yang jernih itu melotot lucu.
“benar kamu
Elang?” kini aku yang menyerbunya dengan
pelukan erat dan airmata yang tertahan dipelupuk mataku. Elang. Aku mimpi?. Ini
terasa sangat nyata. Mana mungkin sekedar khayalku? Jika benar mimpi, aku tak
ingin terbangun lagi. Maka ku coba menepuk-nepuk pipiku sendiri.
“ini bukan
mimpi sayang....ini benar aku. Aku, Elang” penekanan “Elang” yang kurasa
tidak begitu baik. Tak peduli. Aku sudah
bisa menguasai diriku dan ini bukan mimpi.
“khem....” suara
lain berdehem menyadarkan aku. Ada orang asing berdiri tak jauh dari kami.
“dan ini
siapa?” adegan berpelukan yang membuat kami nyaris melupakan seseorang.
Ikhwan berbaju koko warna krem dipadu celana kain diatas mata kaki dan kini
tengah tersenyum geleng-geleng kepala menatap kami.
“ini.....” kau
tersenyum lama tanpa terlebih dulu menjelaskan. Mengundang seribu tanda tanya. Mungkinkah?.
Seperti biasa, kamu mampu membaca tatapanku.
“he’em
Mentari....dia saudaramu sekarang. Pangeranku”. Sedangkan yang disebut tersipu malu. Elang. Kau tidak berubah.
Masih senang menggoda. Dan sekarang bukan hanya aku. Tapi seseorang yang ada
dihadapanku kini.
“Apa kita hanya
akan berdiri disini nona-nona?”
Sang Pangeran bersuara lagi.
“ Ah tidak,
tentu saja. Mari kita masuk” jawabku. “Kau harus menjelaskan lebih
banyak kepadaku Elang, berapa lama kau disini?” kita melangkah masuk.
Berjalan beriringan. Sementara Iqbal mengekori kita dibelakang.
“ Satu minggu” kau
menghempaskan dirimu ke sofa sederhanaku.
“Hanya satu
minggu?”. Kau telah menangkupkan rindu yang amat dahsyat dan sekarang kau
mengatakan satu minggu?
“Kak Iqbal
harus berangkat ke Macau minggu depan. Dan aku harus ikut”.
“Kita kedapur?
Sekarang kamu sudah berumah tangga. Kau harus memasak untukku. Berlalu meninggalkan Iqbal yang kini ditemani Ayah.
***
“Hari
ini seseorang akan datang” . menjelaskan setelah kau paksa aku menjawab menyuruhmu datang
pagi-pagi begini .
“siapa?”
“lihat saja
nanti”. Bibirmu memonyong lucu. Kamu masih
tidak berubah. Kecuali kini penampilanmu yang lebih Syar’i. Masih lekat
diingatanku. Kau yang senantiasa memakai jeans belel yang bolong dibagian
lutut, kemeja kotak-kotak yang lengannya digulung mendekati siku, sepatu kets, topi. Style yang selalu membuatku
cerewet menasehatimu. Tapi sekarang entah bagaimana Iqbal bisa mengubahmu
seperti ini. Bagaimana pun itu, aku sangat berterima kasih padanya.
“dia sudah
datang, kalau itu memang dia”. Segera kau menghambur membuka pintu kamar
dan mengintip seseorang yang kini telah duduk di Sofa bersama Ayah dan Iqbal.
“dia keren juga
Mentari. Sepertinya baik. Aku akan merelakanmu” kau berbicara sementara
matamu masih mengawasi keadaan diluar kamar.
“Kau ingat
siapa dia?” Ujarku.
“ Apa aku
mengenalnya? Siapa? Sepertinya dia masih asing bagiku!”
“Kau ingat Fadhil teman
sekelas kita dikelas satu SMA?”
“cowok kurus
berkacamata, kutu buku, dan mengirimkan surat kepadamu?”
“ya...itu dia!”
“Kau gila Mentari,
cowok cupu itu? Yang entah pindah ke planet mana?”
“Hust.....Aku
menolaknya bukan karena dia cowok cupu. Tapi karena Allah...Elang”
“Iya bu
Ustadzah.... Tapi bagaimana sekarang dia bisa sekeren itu?” “dan untuk apa dia
kemari? sepertinya banyak episode yang ku lewatkan”
“kita sudah
terlalu banyak jeda Elang” terputar
kembali kaset kenangan di memori otakku, tentang kebersamaan kita beberapa
tahun yang lalu hingga kau menghilang tanpa kabar.
***
Masih,
ada beberapa yang tertinggal diujung jalan itu. kita pun menoleh sejenak sebelum
pada akhirnya kita berlari dan berlomba hingga nafas terengah-engah. tawa
memburai, mengejutkan pipit-pipit yang tadinya asyik mematuk-matuk buliran padi
yang telah menguning.
''menurutmu
kemana mereka pergi?". disela derai tawa kau membuka percakapan. jari
telunjukmu mengarah kepada sekawanan burung berwarna putih yang entah apa
namanya.
"kesarangnya
mungkin"
"bagaimana
kalau kita ikuti?"
"kau
gila!"
"baru
tahu aku gila? bukannya sudah lama kita bersahabat?"
"kamu
memang tak pernah waras sedikit pun, huh!"
"kau
sama saja sepertiku".
Tawamu
berderai lagi, memperlihatkan gigi-gigi putihmu yang berjajar rapi. sementara
mungkin ini hari terakhir kebersamaan kita kali ini. dan kita berbagi cerita
pada saat-saat akhir kita dipematang sawah sambil memainkan ilalang yang masih
berembun karena gerimis disiang tadi. suara-suara jangkrik memecah sunyi
disekeliling kita. terkadang kamu masih saja membuatku bingung. aku
aneh, tapi rasanya kamu lebih aneh dariku. menurutku. haha. Hutan, sawah habis
kita jelajahi. bahkan sumur yang katanya angker menurut mereka tak luput kita
kunjungi. keangkeran yang masih jadi tanda tanya dalam benakku, kurasa begitu
juga denganmu.
"bagaimana
kita akan menjalani hidup dimasa depan?". pandanganmu mengudara.
menyusuri garis-garis langit yang tak karuan dengan berbagai bentuk. bahkan
bentuk teraneh yang tak pernah ada. ada disana.
"bagaimana
kita akan menjalani hidup dimasa depan?". gantian aku yang
bergumam merapal imaji tentang masa depan yang mungkin akan terlewati seperti
saat ini.
"kamu
punya mimpi lain?" Pertanyaan yang mengagetkanku di antara
khayal yang mulai memenuhi ruang benak.
"mungkin".
“Apa
mimpimu?"
"harus
kau tahu?"
"Sejak
kapan kau menyimpan rahasia sendiri?"
"Sejak
kapan ya?" menatap matamu yang penuh selidik. bangkit. berjalan
pulang.
"Hei....kau
belum jawab!!!"
"Tunggu
saja nanti". berlari dan kau pun mulai mengejar menjejeri langkahku
sambil menggerutu.
“Kamu
benar akan pulang besok Elang?”
“Ya...harus,
tapi tenang saja, aku pasti datang di hari akad nikahmu”
“itu
kewajiban dan tak bisa kau langgar”
“baiklah” ucapmu
jenaka, sementara aku diam-diam menyisiri setiap lekuk wajahmu yang kini
dilengkapi jilbab hijau tua yang semakin memancarkan aura kecantikan alamimu,
kemudian mengalihkan pandanganku kelangit. Tak ingin tertangkap basah olehmu.
Gengsi.
“bagaimana
kalau kita selesaikan sore kita dengan ini?” ku
lihat ditanganmu telah tergenggam bunga rumput.
“bertanding
bunga rumput? Siapa takut?”
“peraturannya
masih ingat kan?”
“siapa
yang kalah harus menggendong yang menang”
jawabku bersemangat.
“dan
aku pasti menang!!”
“buktikan
saja elang” pertandingan pun
dimulai, kita saling membelitkan bunga rumput dengan cara dipilin berlawanan,
siapa yang terputus. Dia lah yang harus menerima konsekuensi kekalahan.
“Yaaahhh,,,,,aku
kalah lagi” keluhmu.
“sejak
kapan kau pernah menang?” nadaku sedikit
mengejek.
“Ya..ya...ya” tampang putus asamu selalu berhasil membuatku tertawa, lalu kau
menyusulku kemudian, taruhan tak benar-benar kita lakukan, kecuali di masa SD
kita dulu. Itu sebuah kewajiban.
***
Senja telah menghilang berganti malam, dan aku kembali menekuri
buku kecilku. Buku kenanganku, menuliskan kata demi kata yang mengisi fikiranku
lalu menyimpannya lagi di laci meja belajarku yang menghadap kejendela.
Tatapanku tertuju ke sebuah album yang tak lagi baru, tapi selalu kujaga
baik-baik. Membuka lembaran-lembarannya. Dan...
“Hei....melamun
saja!” kedatanganmu tiba-tiba dengan
memukul pundakku membuatku terlonjak kaget demi gemuruh tawamu yang tanpa
kendali.
“Puas?”
“sumpah...kamu
lucu banget kalau kaget Mentari”
masih tawa menguasaimu.
“asal
anda senang, jantungku berhenti berdetak juga gak apa-apa” ujarku sok marah.
“Oke....jangan
marah, ok? Aku hanya bercanda. Hmm....apa ini?” dengan lincah kau menyambar
album yang sedari tadi membangkitkan kenanganku tentang kita tanpa menunggu
jawaban dariku.
“jadi
kamu masih menyimpan semua foto-foto kita ini?”
“memang
menurutmu aku akan membuangnya begitu saja?”
“ya
tidak sih...!!! tapi apa ini? Ranggin Kaman? Apa itu?” jarimu menunjuk pada keterangan yang ku tulis dengan panah
menunjuk ke arah fotomu.
“mau
tahu?”
“sangaaattt...”
“hmm....
Ranggin Kaman itu artinya jelek, item, dekil...”
“Cukup....sepertinya
aku akan tidak tahan mendengarnya”
“bukankah
kau ingin tahu?”
“lalu
apa lagi?” tanyamu penasaran.
“kau
lihat bulan itu? Itu purnama. Apakah akan ada purnama yang sama?”
“akan
selalu ada purnama yang sama, meski tak sama ia nyaris sama”
“mungkin
akan ada purnama yang sama, tapi kita tak dapat melihatnya bersama.”
“suatu
waktu kita akan bersama lagi untuk melihat purnama Mentari”
“Yaah...
kuharap waktu itu ada”
“bukankah
aku telah berjanji untuk kembali?”
“kau
harus menepati janjimu” tapi akankah
aku masih dapat menunggumu Elang?
“ini
sudah malam, sebaiknya kau tidur Elang, besok kau harus berangkat.” Aku berlalu meninggalkannya.
“aku
akan tidur disini menemanimu, aku sudah bilang pada kak Iqbal”
“begitukah?”
“He’em” matamu mengedip genit. Dasar!!!
“
Apa itu Ranggin Kaman?” kamu masih
mengejarku dengan pertanyaan itu, ku tahu logikamu tak akan mengijinkanmu
menyerah begitu saja dengan definisi yang ku berikan tadi.
“
Ranggin Kaman itu......” jawabku
mengambang dan membuatmu tak sabaran menunggu.
“
ya?”
“Ituuuu....”
“Yaaaaa???”
kau semakin tak sabar.
“Tidurrrr!!!!” jawabku seenaknya sambil menutup seluruh badanku dengan selimut
tanpa menghiraukan gerutu kesalmu.
***
Hari esok itu akhirnya tiba juga,
dimana saat aku mungkin akan kehilanganmu lagi, atau kau yang akan kehilanganku?
Entahlah. Tapi yang pasti, aku bahkan tak pernah mengharapkan hari ini.
“Tak
bisakah kau tinggal satu hari lagi saja?”
rasanya begitu berat melepaskanmu.
“Aku
pasti akan datang lagi Mentari.”
“Tenanglah
Mentari..... aku pasti menjaga nona cerewet ini” ucap Iqbal yang kini telah berdiri disampingmu setelah mengemasi
semua barang-barangmu kedalam mobil.
“Terima
kasih Iqbal.... tolong jaga dia baik-baik, aku akan merindukan kalian”
“Aku
juga akan selalu merindukanmu Mentariku sayang”
“dia
merindukanmu lebih banyak dari merindukanku”
sambung Iqbal berlagak cemburu dan sedikit mencairkan suasana haru itu.
“
Ya... Kalian harus segera kembali mengunjungi gubuk kecilku ini”
“
ini istana kita Mentari, Istana kenangan kita, dan aku akan selalu datang
kepadanya”
“baiklah
Mentari....kami harus berangkat”
Iqbal lebih sering bersuara dari biasanya. Mungkin ia mengerti suasana. Ku
lepas pelukan Elang dan ia beranjak dariku menuju mobil. Kutangkap bening
mengalir disudut matanya.Tuhan...jagakan dia untukku. Aku sungguh
menyayanginya karenaMu.
“
Ah... Iqbal....tunggu!!!”
“
Kenapa Mentari?”
“Simpan
ini untuknya, setelah kalian sampai, berikan kepadanya”
“apa
ini?”
“nanti
ia akan tahu. Termasuk jawaban pertanyaannya semalam”
“baiklah...terima
kasih”
“sekali
lagi terima kasih Iqbal, sudah menjadikannya bidadari surga”
“itu
wajib Tuan Putri”
“hehehe....berangkatlah.
nanti kalian ketinggalan pesawat”
“baiklah...Assalamu’alaikum
Mentari, ayah” Iqbal
menelungkupkan tangannya didepan dada kepadaku dan mencium tangan ayah penuh
takzim.
“wa’alaikumussalam
warohmatulloh wabarokatuh” aku dan ayah
menjawab hampir serempak.
“hati-hati
iqbal” sambung ayah kemudian.
Beberapa
saat kemudian, mobil yang membawa Elang dan Iqbal pun mulai meninggalkanku yang
mematung di tengah kebisuanku. Rasa sesak semakin membuncahi dadaku. Aku tak
tahan lagi. Pertahananku bobol. Senyum dan tawaku tak berarti. Cairan bening
itu tumpah juga. Pelangi..... seseorang yang selalu dapat mengerti aku,
memahamiku, menemaniku sebelum
menghilang dan akhirnya datang lagi meski sekejap. Ah.... akankah dapat aku bertemu denganmu
lagi? Ku harap. Ranggin Kaman itu kamu. Pelangi.
Cairan hangat kurasa mulai mengalir perlahan.
Tapi ia tak berasal dari kedua bola mataku. Ia mengalir dari yang lain dan
menitik ketanganku. Darah. Lagi? Aku terpaku menatap cairan merah itu.
Lagi dan lagi. Dari hidungku. Aku masih terpaku. Ku dengar suara ayah
meneriakkan namaku. Memanggil-manggilku. Tapi aku tak tahu bagaimana
menjawabnya. Dan. Gelap......!!!
***Sekian***
0 komentar:
Posting Komentar